LPI Bakal Geruduk Kantor Dubes Prancis

IMG 20201031 WA0007

Satusuaraexpress.co – Organisasi sayap massa FPI, Laskar Pembela Islam (LPI) bakal menggelar aksi bela Nabi pada Senin(2/10/2020) di Kantor Kedutaan Besar Prancis Jalan MH. Thamrin no 20 Jakarta Pusat.

Aksi yang berlangsung mulai pukul 13.00 WIB sampai dengan selesai bertujuan untuk mengecam keras serta mengutuk Presiden Prancis Emanuel Macron yang mempropoganda kebenciannya pada Islam, melindungi dan membela penista Nabi. Selain itu juga massa LPI akan membacakan kitab Maulid Nabi SAW.

Sekedar diketahui, kemarahan umat Islam disebabkan penerbitan kartun Nabi Muhammad SAW yang dianggap menghina kaum muslimin di dunia. Ditambah lagi ucapan Presiden Prancis Emanuel Macron.

Dalam pidatonya, Macron bukannya meredam, malah membuat kontroversi dan mempropoganndakan rakyatnya untuk membenci Islam. Lantaran mengecap agama Islam sebagai teroris.

Berikut penggalan pidato Presiden Macron dihadapan para petinggi Prancis yang dikutip redaksi.

“Menteri; anggota parlemen; Tuan Walikota, François, terima kasih banyak; Bapak Presiden Komite Departemen; Bapak Presiden Komunitas Perkotaan; Tuan Prefek; Tuan Presiden Pengadilan Banding; Tuan Penuntut Umum Negara; Madam Chief Education Officer; hadirin sekalian dari semua pangkat dan posisi; wanita dan pria. Terima kasih, Pak Walikota, karena telah menyambut kami di Les Mureaux,” ucap Macron.

“Islam adalah agama yang saat ini sedang mengalami krisis di seluruh dunia. Kami tidak hanya melihatnya di negara kami, ini adalah krisis mendalam yang terkait dengan ketegangan antara bentuk-bentuk fundamentalisme, khususnya proyek-proyek keagamaan dan politik yang, seperti yang kami lihat di setiap wilayah di dunia, mengarah pada pengerasan yang sangat kuat, termasuk di negara-negara dimana Islam menjadi agama mayoritas,” tuturnya

“Lihatlah teman kita Tunisia, untuk mengambil satu contoh saja. Tiga puluh tahun yang lalu, situasinya sangat berbeda dalam cara agama diterapkan, cara dihayati, dan ketegangan yang kita alami dalam masyarakat kita hadir di masyarakat itu, yang tidak diragukan lagi merupakan salah satu yang paling terdidik dan berkembang di wilayah,” ungkapnya.

“Jadi, dimanapun ada krisis Islam, yang sedang terinfeksi oleh manifestasi radikal ini, dorongan radikal ini dan keinginan untuk menciptakan kembali jihad, yang berarti penghancuran Yang Lain. Proyek untuk kekhalifahan teritorial yang kami lawan di Levant, yang kami perjuangkan di Sahel, dan di mana-mana bentuknya yang paling radikal, kurang lebih berbahaya,” sebut Macron.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *