Studi baru Rockefeller : Vaksinasi pada Penyintas Covid-19 Terlindung dari Infeksi Virus Corona

20b02bf65b1a86168302306584562037

Satusuaraexpress.co – Juru bicara Vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi menyebutkan,hingga Minggu (4/4/2021) penyuntikan vaksin COVID-19 di Indonesia telah menembus 12,5 juta dosis, vaksin tahap pertama telah disuntikkan kepada 8.620.973 orang, Sedangkan,pada vaksin dosis kedua telah disuntikkan kepada 4.012.635 orang. Cakupan vaksinasi dosis pertama kepada SDM Kesehatan telah memenuhi 98,17  persen yang artinya telah ada 1.441.905 orang melakukan vaksinasi dosis pertama. Serta vaksinasi dosis kedua telah memenuhi cakupan sebesar 88,07 persen dari total.

Nadia merinci,seluruh dosis yang diberikan mencapai 21,33 persen dari target 40 juta pada tahap pertama dan kedua. Jumlah vaksinasi di Indonesia secara keseluruhan lebih baik dibandingkan Negara-negara di Eropa. WHO telah memberikan catatan bahwa rata-rata vaksinasi COVID-19 di Eropah masih dibawah 10 persen.

Hingga hari Minngu ini,kasus positif di Indonesia mencapai

1.534.255 kasus. Sementara angka kesembuhan menembus 1.375.877.Kasus kematian mencapai 41.699 orang.

Sebuah studi baru Rockefeller menunjukkan bahwa mereka yang pulih dari COVID-19 atau penyintas COVID-19 akan terlindungi dari virus tersebut setidaknya selama enam bulan atau lebih lama.

Penemuan yang dipublikasikan dalam jurnal Nature ini memberikan bukti bahwa sistem kekebalan tubuh bekerja luar biasa. Sistem kekebalan akan terus meningkatkan kualitas antibodi, bahkan setelah infeksinya berkurang.

Antibodi yang diproduksi selama berbulan-bulan setelah infeksi, menunjukkan peningkatan kemampuan untuk memblokir virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 serta versi mutasinya seperti varian virus baru yang ada di negara Afrika Selatan.

Melansir dari Sciencedaily (21/01/2021), para peneliti menemukan bahwa peningkatan antibodi ini diproduksi oleh sel-sel kekebalan yang terus berkembang, karena terus terpapar sisa-sisa virus yang tersembunyi di jaringan usus.

Berdasarkan temuan ini, peneliti menduga bahwa ketika pasien yang sembuh bertemu virus berikutnya, perlawanan tersebut akan lebih cepat dan lebih efektif, dan mencegah infeksi berulang.

“Ini benar-benar berita yang menggembirakan. Jenis tanggapan kekebalan yang kita lihat di sini berpotensi memberikan perlindungan untuk beberapa waktu, dengan memungkinkan tubuh untuk melakukan tanggapan yang cepat dan efektif terhadap virus setelah terpapar ulang,” kata Michel

  1. Nussenzweig, Profesor Zanvil A. Cohn dan Ralph M.

Steinman dan kepala Laboratorium Imunologi Molekuler merupakan tim yang sama yang melacak dan mengkarakterisasi respons antibodi pada pasien COVID-19 sejak hari-hari awal pandemi di New York.

Antibodi yang dibuat tubuh sebagai respons terhadap infeksi, bertahan dalam plasma darah selama beberapa minggu atau bulan, tetapi kadarnya menurun secara signifikan seiring waktu.

Sel B Memori Tahan Lama

Sistem kekebalan memiliki cara efisien untuk menangani patogen. Alih-alih memproduksi antibodi sepanjang waktu, sistem kekebalan menciptakan sel B memori yang mengenali patogen, dan dapat dengan cepat melepaskan babak baru bagi antibodi.

Untuk memahami kasus SARS-CoV-2, Nussenzweig dan rekannya mempelajari tanggapan antibodi dari 87 orang pada dua titik jangka waktu: satu bulan setelah infeksi, enam bulan kemudian, seperti yang diharapkan, menemukan bahwa meskipun antibodi masih dapat dideteksi pada titik enam bulan, yang jumlahnya telah menurun secara nyata.

Eksperimen laboratorium ini menunjukkan bahwa kemampuan sampel plasma peserta untuk menetralkan virus berkurang lima kali lipat.

Sebaliknya, sel B memori pasien, khususnya yang memproduksi antibodi melawan SARS-CoV-2, tidak menurun jumlahnya bahkan sedikit meningkat dalam beberapa kasus.

Menurut Christian Gaebler, dokter dan ahli imunologi di lab Nussenzweig, jumlah keseluruhan sel B memori yang menghasilkan antibodi yang menyerang tumit Achilles dari virus, yang dikenal sebagai domain pengikat reseptor, tetap sama.

Penyintas COVID-19 terinfeksi kembali.

Juru bicara Satgas Penanganan COVID-19, Wiku Adisasmito mengatakan memang ada sejumlah temuan kasus penyintas COVID-19 yang kembali terinfeksi di Indonesia. Padahal, kata Wiku, tubuh mereka yang sudah pernah terinfeksi COVID-19 semestinya sudah membentuk kekebalan antibodi secara alami.

Fenomena reinfeksi ini, kata Wiku, masih menjadi pertanyaan para ilmuwan. “Virus SARS-CoV-2 adalah tipe virus Corona yang baru, sehingga pertanyaan terkait imunitas yang terbentuk setelah terpapar masih menjadi tanda tanya bagi para ilmuwan,” ujarnya dalam konferensi pers virtual, Kamis, 18 Februari 2021.

Namun, kata Wiku, berdasarkan kajian Hong Kong Medical Journal yang diterbitkan pada 2020 menyebutkan ada beberapa hal yang diperkirakan menjadi faktor penyebab penyintas terinfeksi kembali.

Pertama, karena virus masih bersembunyi di dalam tubuh.  Kedua, kontaminasi silang dari strangevirus lainnya. “Ketiga, bisa juga karena hasil pemeriksaan pasien positif palsu atau false positive,” ujarnya.

Fakta ini, kata Wiku, menandakan bahwa tidak ada alasan bagi penyintas COVID-19 untuk mengabaikan protokol kesehatan karena peluang terinfeksi kembali masih ada.

Vaksinasi COVID-19 pada penyintas COVID-19

Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan aturan terbaru yang membolehkan penyintas mengikuti vaksinasi COVID-19.

“Penyintas dapat divaksinasi jika sudah lebih dari 3 bulan,” demikian tertera dalam Surat Edaran Nomor: HK.02.02/I/ /2021 yang diteken Plt Dirjen P2P Kemenkes, Maxi Rein Rondonuwu tertanggal 11 Februari 2021.

Kendati demikian, vaksin pun tidak menjamin 100 persen seseorang tidak akan tertular COVID-19. BPOM menyebut efikasi vaksin COVID-19 asal Sinovac, yang kini masih menjadi satu- satunya vaksin yang tersedia di Indonesia, memiliki efikasi sebesar 65 persen. Artinya, masih ada risiko penularan 35 persen bagi mereka yang sudah divaksin.

Dengan demikian, Satgas Covid-19 mengimbau seluruh masyarakat, termasuk penyintas COVID-19, tetap disiplin melaksanakan protokol kesehatan meskipun sudah menjalani vaksinasi COVID-19.

Apakah setelah vaksinasi aman dari COVID-19?

Di kalangan masyarakat masih ada yang mempertanyakan pentingnya vaksinasi COVID-19 dan apa yang terjadi dalam tubuh setelah vaksinasi.

Setelah menjalani proses vaksinasi memang penting untuk mengetahui apa yang terjadi dalam tubuh. Masyarakat perlu mulai memahami satu langkah lain, yakni uji kuantitatif serologi melalui tes derologi kuantitatif.

Uji serologi kuantitatif merupakan cara medis melalui pengambilan sampel darah yang berfungsi mengidentifikasi patogen di dalam tubuh. Tujuannya untuk mengetahui dan melihat respons kekebalan tubuh atau antibodi dari orang yang telah mendapatkan vaksin COVID-19.

Uji kuantitatif serologi dilakukan pada laboratorium khusus serologi bertujuan membaca hasil pemeriksaan secara kuantitatif. Wujudnya adalah jumlah titer antibodi yang ada di dalam darah.

Uji tes ini berbeda dengan tes cepat serologi sebelumnya,  metode kualitatif, yaitu menunjukkan apakah hasil tes reaktif atau nonreaktif. Intinya adalah metode serologi kuantitatif berfungsi untuk mengecek imun tubuh pascavaksinasi.

Tes kuantitatif serologi menggunakan immunoassay untuk menentukan nilai kuantitatif titer antibodi terhadap protein spike-receptor binding domain (S-RBD) COVID-19 dalam darah. Metode ini akan membantu memberikan hasil nilai antibodi secara akurat sehingga pasien bisa mengetahui bagaimana respons imun tubuh terhadap COVID-19.

Meskipun perlu dilakukan, harus pula dipahami tes serologi kuantitatif bukan untuk skrining atau diagnosis. Tes ini termasuk jenis tes imunologi yang bersifat mengavaluasi titer antibodi COVID-19 dalam tubuh, baik pascavaksin maupun kondisi setelah terpapar COVID-19. Karenanya tes kuantitatif serologi berbeda dengan tes kualitatif serologi pada umumnya.

Tes kualitatif serologi bertujuan untuk skrining COVID-19 sementara tes kuantitatif serologi bertujuan mengetahui titer antibodi seseorang terhadap COVID-19 yang ditunjukkan dengan satuan u/mL. Selain itu, tes kuantitatif antibodi juga berguna dalam menilai respons imun humoral seseorang, yaitu antibodi terhadap COVID-19, baik pada penyintas COVID-19 maupun pada individu penerima vaksin.

Dalam prosesnya, pengumpulan sampel tes kuantitatif serologi diambil dari darah vena dengan waktu proses pemeriksaan adalah sekitar 120 menit. Pada penerapannya, tes serologi kuantitatif ini memiliki tiga kegunaan, yaitu bagi yang telah vaksinasi COVID-19 dapat mengetahui apakah tubuh sudah memiliki imun atau belum memiliki antibodi COVID-19.

Kedua, bagi penyintas COVID-19 bisa mengetahui apakah serologinya dapat melindunginya atau masih bisa terkena kembali. Terakhir, sebagai terapi plasma konvalesen, yaitu sebagai pendonor (orang yang sembuh dari COVID-19 dan sudah diuji dengan hasil negatif) bagi pasien COVID-19.

Tes serologi kuantitatif pada umumnya bisa dilakukan secara berkala dan direkomendasikan untuk pasien yang sudah divaksinasi setelah periode 14-60 hari dari penyuntikan vaksin tahap kedua. Langkah yang dilakukan ini tak lain sebagai ikhtiar untuk menguatkan aktivitas masyarakat di tengah pandemi COVID-19 sampai terbentuknya kekebalan komunitas hingga pandemi perlahan dapat teratasi.

Simpulan

Penemuan memberikan bukti bahwa sistem kekebalan tubuh bekerja luar biasa pada penyintas COVID-19. Sistem kekebalan akan terus meningkatkan kualitas antibodi, bahkan setelah infeksinya berkurang.

Sejumlah temuan kasus penyintas COVID-19 yang kembali terinfeksi di Indonesia, padahal tubuh mereka yang sudah pernah terinfeksi COVID-19 semestinya sudah membentuk kekebalan antibodi secara alami.

“Penyintas dapat divaksinasi jika sudah lebih dari 3 bulan,” demikian tertera dalam Surat Edaran Nomor: HK.02.02/I/ /2021 yang diteken Plt Dirjen P2P Kemenkes, Maxi Rein Rondonuwu tertanggal 11 Februari 2021.

Pasca vaksinasi COVID-19 aman bagi penyintas COVID-19. Tes serologi kuantitatif pada umumnya bisa dilakukan secara berkala dan direkomendasikan untuk pasien yang sudah divaksinasi setelah periode 14-60 hari dari penyuntikan vaksin

tahap kedua. Langkah yang dilakukan ini tak lain sebagai ikhtiar untuk menguatkan aktivitas masyarakat di tengah pandemi COVID-19 sampai terbentuknya kekebalan komunitas hingga pandemi perlahan dapat teratasi.

Jaga protocol kesehatan 3M pasca vaksinasi COVID-19 Bersama kita bisa mengatasi pandemic COVID-19

 

Jakarta, 5 April 2021

Dr.Mulyadi Tedjapranata

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *