Kontrakversi Efek Samping Vaksin Covid 19 di Indonesia

5f8711625addb

Satusuaraexpress.co – Data vaksinasi per 30 Maret 2021, terdapat 7.729.582 orang sudah dilakukan vaksinasi tahap pertama, sedangkan 3.500.264 orang yang telah menerima vaksinasi tahap ke dua. Sementara target vaksinasi yang dicanangkan pemerintah sebanyak

40.349.051 orang Cakupan vaksinasi tahap kedua baru mencapai 19,16 persen untuk dosis pertama dan 8,67 persen dosis kedua. Sementara vaksinasi tahap pertama yang menargetkan tenaga kesehatan cakupan sudah mencapai 97,65 persen untuk dosis pertama dan 87,19 persen untuk dosis kedua. Adapun sasaran pada tahap pertama untuk tenaga kesehatan yakni sebanyak 1.468.764 orang.

Sementara  287.477  tenaga  kesehatan  mengalami  penundaan disuntik dosis pertama dan 10.107 untuk dosis kedua. Vaksinasi Covid-19 diberikan dua dosis dan penyuntikannya dilakukan sebanyak dua kali dalam rentang 14 hari. Hal itu dilakukan untuk mencapai kekebalan kelompok atau herd immunity terhadap penyakit       yang       disebabkan       virus       SARS-CoV-2     itu.

Berikut update data Covid-19 di seluruh dunia hingga Selasa, 30 Maret 2021 pukul 12.00 WIB.

Menurut data dari worldometers.info, hingga kini tercatat sudah ada 128.261.601 kasus Covid-19 di seluruh dunia.

Sekitar      103.466.706        antaranya       telah      sembuh       sedangkan 2.804.891 lainnya meninggal dunia.

Kasus aktif di seluruh dunia tercatat 21.759.536.

Negara dengan jumlah kasus terbanyak ditempati oleh Amerika Serikat dengan total 31.033.801 kasus.

Sementara itu, Indonesia berada di peringkat ke-20 dengan total infeksi terbanyak di dunia.

Berdasarkan data terbaru yang dikutip dari situs resmi Kemenkes, jumlah kasus per Selasa, 30 Maret 2021 mencapai 1.505.775 orang Angka ini didapat karena penambahan pasien positif harian dalam 24 jam mencapai 4.682 orang. Sementara itu, untuk pasien sembuh mengalami penambahan sebanyak orang. Akumulasi pasien  yang  sembuh  dari Covid-19 hari ini mencapai     1.342.695 orang.                   Adapun          pasien          meninggal           dunia    40.754 Ketika semakin banyak negara menggencarkan upaya vaksinasi mereka, masih banyak hal-hal yang belum diketahui .

Sampai sekarang, masih belum ada kejelasan berapa lama kekebalan yang dicapai setelah vaksinasi atau apakah vaksin yang ada akan efektif terhadap varian-varian baru virus yang muncul di seluruh dunia.

Hampir dua bulan setelah program vaksinasi terbesar dalam sejarah dimulai, masih ada empat pertanyaan kunci yang masih belum terjawab Vaksin Covid-19, seberapa jauh peluang mengatasi pandemic Cocid-19 ?

  1. Berapa lama ketahanan kekebalan yang dihasilkan vaksin?

Kekebalan tubuh setelah tertular virus corona atau divaksinasi adalah salah satu pertanyaan yang paling sering ditanyakan dalam beberapa bulan terakhir.

Satu tahun setelah dimulainya pandemi, studi pertama tentang kekebalan dalam jangka menengah dan panjang telah diterbitkan.

Penelitian di bidang sangat terbatas karena waktu untuk mengkaji relatif singkat, begitu pula dengan waktu untuk mengembangkan vaksin. Namun menurut La Jolla Institute of Immunology di California, beberapa respons imun setelah mengatasi infeksi virus corona tetap aktif setidaknya selama kurang lebih enam bulan.

Ini serupa dengan temuan Public Health England, yang menyarankan bahwa kebanyakan pasien yang menderita Covid dilindungi setidaknya selama lima bulan.

Beberapa ilmuwan yakin kekebalan akan bertahan lebih lama, bahkan bertahun-tahun.

Tentu saja, ini mungkin tidak sama untuk semua pasien. Masing- masing orang dapat mengembangkan perlindungan yang lebih atau kurang dan kemungkinan terinfeksi lagi akan bergantung pada protocol keehatan yang dijalankan dalam kehidupan new normal.

Hal serupa terjadi pada vaksin.

“Sulit untuk mengatakan berapa lama kekebalan akan bertahan karena kami baru saja mulai memvaksinasi dan itu dapat bervariasi tergantung pada pasien dan jenis vaksin, tetapi mungkin antara enam hingga 12 bulan,” Dr Julian Tang, ahli virologi di Universitas Leicester, di Inggris, mengatakan kepada BBC.

Dr Andrew Badley, profesor ilmu kedokteran molekuler di Mayo Clinic di Amerika Serikat, lebih optimistis: “Saya yakin bahwa efek vaksinasi dan kekebalan dapat bertahan selama beberapa tahun. “Penting juga untuk menganalisis secara rinci kasus orang yang terinfeksi          dengan varian baru                 dan                    mengamati bagaimana tanggapan pasien setelah vaksin.”

2. Apakah mungkin tertular virus corona setelah divaksinasi?

Hal itu mungkin terjadi karena beberapa alasan.

Yang pertama adalah perlindungan yang ditawarkan oleh kebanyakan vaksin tidak berlaku sampai dua atau tiga minggu setelah menerima dosis pertama atau satu-satunya, tergantung pada jenis vaksinnya.

“Jika Anda terpapar virus sehari atau seminggu setelah suntikan, Anda masih rentan terhadap infeksi dan Anda dapat menularkan virus ke orang lain,” jelas Dr Tang.

Tetapi bahkan jika seseorang terpapar virus beberapa minggu setelah menerima dosis yang disyaratkan, tetap ada kemungkinan untuk terinfeksi.

“Data yang tersedia menunjukkan bahwa beberapa orang dapat tetap terinfeksi Covid, meskipun mereka memiliki lebih sedikit virus. Akibatnya mereka mengalami gejala lebih ringan daripada mereka yang belum terinfeksi atau divaksinasi,” kata Dr Badley. “Sama hal, menurut saya, bahwa virus itu akan lebih sulit untuk menular setelah seseorang divaksinasi.”

Oleh karena itu, ada beberapa konsensus bahwa vaksin tampaknya melindungi sejumlah besar individu dengan sangat efektif, tetapi sejauh mana mereka mencegah infeksi dan penularan infeksi masih belum diketahui.

“Ini adalah virus yang sangat heterogen dan menghasilkan gejala yang sangat berbeda tergantung pada pasien,” kata José Manuel Bautista, profesor di Departemen Biokimia dan Biologi Molekuler di Universitas Complutense Madrid, di Spanyol.

“Hal yang sama akan terjadi dengan vaksin. Beberapa orang akan memiliki reaksi kekebalan yang sangat kuat yang akan segera mencegah virus berkembang biak di dalamnya. Sementara pada orang lain, tanggapannya tidak akan begitu lengkap dan akan memungkinkan reproduksi dan penularan.”

3. Akankah vaksin akan dapat melindungi dari mutasi dan varian baru virus corona?.

Virus-virus terus bermutasi dan kadang-kadang bermutasi sedemikan rupa sehingga menjadi lebih kebal terhadap vaksin, sehingga perlu dimodifikasi.

Varian-varian virus corona yang diidentifikasi di Afrika Selatan atau Inggris telah menyebar ke negara-negara lain dan bahkan menjadi dominan karena tingkat infeksi yang lebih tinggi.

Moderna mengumumkan pada hari Senin bahwa vaksinnya masih efektif terhadap varian Inggris dan Afrika Selatan. Meski demikian, pihaknya akan mengembangkan jenis baru dari vaksin tambahan yang dapat digunakan untuk meningkatkan perlindungan terhadap varian Afrika Selatan. Pfizer/BioNTech juga mengklaim vaksin mereka bisa melawan varian baru.

“Demikian pula, harus diperhitungkan bahwa meskipun vaksin yang disetujui sangat efektif, vaksin tersebut tidak 100% efektif melawan varian virus apa pun, bahkan yang jenis pertama” kata Dr Badley.

“Perlindungan vaksin akan bergantung pada seberapa berbedanya varian baru dari yang lama,” tambah Dr Tang.

Singkatnya, pemerintah dan departemen kesehatan perlu memantau dan mengidentifikasi varian yang muncul untuk menilai apakah penangan yang tersedia akan efektif melawannya.

4.Berapa dosis dan selama periode berapa lama vaksin harus diberikan?

Vaksin Pfizer, Moderna dan Universitas Oxford/AstraZeneca, misalnya, diberikan dalam dua dosis.

Awalnya, berdasarkan bagaimana suntikan diuji dalam uji klinis, orang-orang diberi tahu bahwa mereka akan mendapatkan dosis kedua pada tiga hingga empat minggu setelah yang pertama.

Tetapi pada akhir 2020, Inggris mengumumkan akan memprioritaskan vaksinasi orang sebanyak mungkin dengan dosis pertama dan akan menawarkan yang kedua dalam waktu sampai tiga bulan setelah yang pertama. Ini memicu perdebatan internasional tentang cara terbaik untuk memvaksinasi, tetapi Pfizer dan sebagian besar komunitas ilmiah dunia lebih suka berpegang pada apa yang telah dibuktikan dalam uji klinis: dosis pertama diberikan, kemudian yang kedua setelah 21 hari.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memutuskan hal ini dan juga merekomendasikan pemberiannya setiap 21 atau 28 hari, meskipun mereka mengakui interval ini dapat diperpanjang hingga maksimal enam minggu dalam kasus luar biasa.

5. Apakah vaksin corona dosis pertama dan kedua boleh dari jenis yang berbeda ?

Masih banyak pertanyaan-pertanyaan mengenai vaksin corona yang belum terjawab. Salah satu adalh apakah vaksin corona dosis pertama dan ke dua boleh dari jenis yang berbeda ?

Center for Disease Control and Prevention merekomendasikan untuk menggunakan jenis vaksin yang sama untuk dosis pertama dank e dua. Namun tidak masalah jika vaksin yang digunakan berbeda selama keduanya mengandung protein virus yang sama. Amerika Serikat dan Inggris menggunakan dua jenis vaksin yang berbeda yaitu Pfizer dan Moderna. Otoritas kesehatan setempat mengatakan kedua vaksin ini tidak bisa saling menggantikan. Namun pada situasi yang luar biasa di mana ketersediaan terbatas, lebih baik menggunakan jenis vaksin yang berbeda pada dosis kedua ketimbang tidak sama sekali. Dosis tersebut dapat diberikan setidaknya dalam selang waktu enam minggu ataupun mengikuti interval yang sudah direkomendasikan. Untuk vaksin Pfizer misalnya, dosis kedua diberikan tiga minggu setelah pemberian dosis pertama. Sedangkan vaksin Moderna dosis keduanya diberikan empat minggu setelah pemberian dosis pertama. Menurut Helen Fletcher, professor imunologi di London School of Hygiene and Tropical Medicine dan Dr, Steven Griffin, professor madya di Fakultas Kedokteran Universitas Leeds, keduanya sependapat bahwa pencampuran vaksin tidak perlu dihkawatirkan, bahkan malah menguntungkan.

Panduan baru dari Public Health England mengatakan, belum ada bukti yang benar-benar khusus bahwa mengkombinasikan vaksin virus orona dapat memberikan efek yang lebih ermanfaat ketimbang penggnaan sejenis vaksin corona yang sama. Jika vaksin yang sama tidak tersedia,untuk mendapatkan suntikan vaksin kedua yang berbeda boleh , terutama jika orang trsebut berisiko tinggi terkena infeksi corona serius. Namun diperlukan kajian lebih mendalam sebelum metode ini digunakan untukmmenangani virus corona. Perlu diketahui bahwa penelitian menunjukkan bahwa vaksin 50 persen bekerja efektif 10 hari atau lebih setelah suntikan pertama dan hampir 95 persen efektif beberapa hari setelah suntikan kedua. Setiap vaksin membutuhkan jarak yang berbeda antar dosis.

Jadi sangat penting untuk bekerja sama dengan dokter untuk mengetahui waktu yang tepat tentang vaksin yang digunakan.

Di masa pandemi seperti saat ini penting untuk selalu menjaga kesehatan                      dengan      menerapkan       protocol      kesehatan      dengan memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak, gaya hidup sehat dan konsumsi vitamin dan suplemen untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Jakarta 30 Maret 2021

Dr. Mulyadi Tedjapranata

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *