Satusuaraexpress.co – Pemerintah China telah memberi izin edar vaksin Convidecia atau nama kode Ad5n-CoV yang diproduksi oleh CanSino, perusahaan farmasi China yang telah memproduksi sejumlah vaksin.
Berdasarkan informasi dari laman resmi perusahaan CanSino ini, data analisis sementara uji klinis fase III Convidecia menunjukkan bahwa efikasi keseluruhan sebesar 65,28 persen untuk mencegah semua gejala penyakit COVID-19, 28 hari setelah pemberian vaksinasi dosis tunggal
Selain itu, efikasi mencapai 68,83 persen untuk mencegah semua gejala COVID-19 ,14 hari setelah pemberian vaksinasi dosis tunggal.
Ad5-nCoV memiliki khasiat 90,07 persen untuk mencegah penyakit berat 28 hari setelah vaksinasi dosis tunggal, dan 95,47 persen ubtuk mencegah pentakit parah 14 hari setelah vaksinasi dosis tunggal.
Data ini mensukung fakta bahwa khasiat Convidecia telah memenuhi stansar teknis relevan yang ditetapkan oleh WHO dan standar serta persyaratan yang ditetapkan otoritas China.
Pada 20 Juni 2020, vaksin Convedecia telah menerima Persetujuan Obat-obatan yang Diperlukan khusus Militer di Tiongkok yang dikeluarkan oleh Biro Kesehatan dari Departemen Dukungan Logistik dari Komisi Militer Pusat.
Vaksin Convidecia dibuat di atas platform teknologi vaksin vektor virus berbasis adenovirus yang telah berhasil digunakan untuk mengembangkan vaksin Ebola, Pada vaksin Convidecia, _adenovirus vector_ dijadikan sebagai inang untuk membawa materi antigen virus SARS-CoV-2 dalam vaksinnya sendiri. Mengapa dipilih sebagai inang _adenovirus_ ? Itu karena virus ini mudah dimodifikasi dan kekebalan yang terbentuk dari vaksin inang adenovirus biasanya cukup kokoh dibanding yang lain. Vaksin Convidecia dapat disimpan dan diangkut dengan stabil antara 2-8 derajat C, sehingga lebih mudah di akses di daerah dengan kesehatan masyarakat yang kurang terlayani.
Vaksin Condvidecia merupakan satu- satunya Vaksin Corona yang beredar dengan dosis tunggal dari China, disamping vaksin yang dikembangkan Johnson & Johnson Amerika Serikat.
Vaksin COVID-19 dosis tunggal buatan Johnson & Johnson menunjukkan efikasi 66 persen dalam mencegah penyakit sedang hingga berat. Sedangkan pads kasus berat, efikasi teramati lebih tinggi yakni 85 persen.
Uji klinis vaksin ini melibatkan 44 ribu relawan, tersebar di Amerika Serikat Amerika Selatan dan Afrika Selatan.
Di Amerika Serikat efikasi tercatat 72 persen, di Afrika Selatan 57 persen, dan Amerika Selatan 66 persen.
Hasil uji klinis di Afrika Selatan memiliki makna penting karena salah satu varian yang lebih menular berasal dari wilayah tersebut. Varian tersebut bahkan sudah menyebar sampai Amerika Serikat.
Vaksin Johnson& Johson menggunakan platform viral vektor dan bisa disimpan pada suhu 2-7 derajat C.
Saat ini CoronaVac produksi Sinovac telah digunakan di Indonesia, memiliki dosis dua kali suntik. Efikasi CoronaVac berdasarkan kajian BPOM adalah 65,3 persen
Bagaimana dengan CanSinoBiologics?
Didirikan pada tahun 2009, CanSinoBio ( SHSE: 688185, HKEX: 06185) berkomitnen untuk penelitian,produjsi dan komersialisasi vaksin inovatif untuk China dan kesehatan global.
CanSinoBio memiliki empat teknologi platform terintegrasi termasuk vektor berbasis adenovirus, konyugasi,desain protein dan rekombinasi dan formulasi
Sampai hari ini , CanSinoBio telah menetaokan saluran yang kuat dari 16 vaksin yang mencegah 13 jenis penyakit, termasuk vaksin virus Ebola inovatif global yang disetujui pada 2017 serta vaksin Coronavirus Novel Rekombinan yang diselidiki ( Vektor Adenovirus Tipe5 )
Uji klinis tahap III Vaksin CanSino dilakukan di Meksiko pada Oktober 2020 yang lalu terhadap 15.000 relawan.
CanSinoBio bekerja sama dengan perusahaan lokal Meksiko, EPIC RESERCHS de RL de CV (“EPIC”) untuk memajukan studi kasus.
Pada Oktober lalu, CanSinoBio juga telah menanadatangani perjanjian pembelian di muka dengan pemerintah Meksiko untuk memasok 35 juta dosis vaksin COVID-19 kepada orang- orang Meksiko.
Dr. Xuefeng Yu, Ketua dan CEO CanSinoBio menyatakan, peluncuran studi klinis Ad5- nCoV di.Meksiko merupakan pencapaian lain dari CanSinoBio Setelah sukses uji klinis III di Meksiko, CanSino melakukan pengembangan klinis fase III di Rusia dan Pakistan.
Ad5-nCoV, yang dikembangkab bersama oleh Institut Bioteknologi Beijing (BIB), Akademi Ilmu Kedokteran Militer, menjadi yang pertama dari jenisnya yang memasuki pengembangan klinis pada Maret 2020.
Hasil studi klinis fase I dan II telah diterbitkan di Lancet pada bulan Mei dan Juni 2020
Data menunjukkan bahwa suntikan dosis tunggal dapat menyebabkan respons imun humoral dan sellulet yang seimbang. Pada Agustus 2020 menjadi kandidat vaksin COVID’19 pertama di China yang dipatenkan.
CanSinoBio memiliki Pusat Penelitian dan Pengembangan dengan luas lantai sekitar 120.000 kaki persegi serta kampus manufaktur komersial seluas 380.000 kaki persegi, yang dirancang memenuhi syarat dan dioperasikan sesuai standar cGMP internasional (FDA EU WHO dan China)
Jakarta,6 Maret 2021
Dr. Mulyadi Tedjapranata













