Berita  

Koalisi Indonesia Maju Tetap Utuh atau Pecah Kongsi Usung Cagub & Cawagub DKI Jakarta

6c9efe8c 2f4e 47d1 80a0 0ad081904035

Oleh : Agus Fahrin
Alumni LK III HMI

Dinamika Pilgub DKI Jakarta semakin memanas, sejumlah elit Partai Pengusung Prabowo-Gibran yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Maju bicara mengenai Pilgub DKI Jakarta. Koalisi Indonesia Maju adalah mesin penggerak politik Nasional yang telah memenangkan Pilpres 2024. KIM mengusung Prabowo-Gibran melawan Anies – Muhaimin dan Ganjar – Mahfud. Pada Pilkada DKI Jakarta, KIM tengah diperbincangkan, kemana arah keberpihakannya mengusung Cagub & Cawagub DKI Jakarta. Sejumlah nama sedang digadang gadang, sedang digodok siapa calon yang layak diusung. Gerindra dan PAN mengusung Ridwan Kamil, nama Ariza Patria dan dua figur lainnya turut diusung Gerindra. Namun, muncul sejumlah opsi berbeda, Golkar dan Demokrat masih Gamang soal Ridwan Kamil, meski Ridwan Kamil adalah Kader Golkar sendiri, Ridwan Kamil ingin didorong kembali maju di Jabar. Soal itu, semua akan mengacu pada landasan rasio politik yaitu tingkat perkembangan elektabilitas antar Bakal Calon menurut hasil Survey, baik Survey Internal Partai masing masing, maupun lembaga survey nasional pada umumnya.

Koalisi Indonesia Maju terdiri dari Partai Gerindra, Golkar, Demokrat, PAN, PSI, PBB, Partai Gelora dan Garuda. Tentunya kekuatan partai dan legitimasi patron menjadi modal utama dalam memenangkan kontestasi politik, baik Pilpres maupun Pilkada. Pada sisi ini, persaingan partai politik semakin ketat, terutama dalam menentukan dan mengajukan nama Bakal Cagub & Cawagub DKI Jakarta yang diusung. Pasalnya, eksistensi partai politik merupakan sebuah keniscayaan menuju konsolidasi demokrasi di Indonesia yang terus berlangsung demi bargaining kepentingan politik masing masing partai dan kekuasaan. Kaitan dengan Pilgub DKI Jakarta, Koalisi Indonesia Maju dinilai memiliki pengaruh besar dalam menentukan kemenangan, bila KIM bersikap satu pandangan satu pilihan mengusung Paslon pada Pilgub DKI Jakarta.

Prabowo selaku Ketua Umum Partai Gerindra dapat berkesempatan membangun peran penting dalam uruk rembuk arah Koalisi Indonesia Maju mengusung Calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, sehingga Koalisi Indonesia Maju dapat dengan segera menjaring dan memastikan Paslon yang diusung. Berunding siapa yg lebih cocok didorong maju sebagai Cagub DKI menurut pertimbangan KIM, Partai Koalisi dapat menyeleksi dengan segala pertimbangan kriteria dan kesiapan.

Dari sejumlah pembacaan pengamat politik dan sejumlah elit Partai Koalisi Indonesia Maju, bukan hanya Ridwan Kamil yang harus diusung menjadi Cagub. Ariza Patria selaku Mantan Gubernur DKI Jakarta sesungguhnya layak juga diusung Calon Gubernur oleh Partainya sendiri, dapat juga didukung oleh KIM. Bila menurut KIM Ariza Patria dikehendaki layak diusung sebagai Cagub DKI Jakarta, atau Ariza ditempatkan sejajar dengan figur figur lain yang Bakal maju Calon Gubernur DKI, ya kenapa tidak. Namun dari pihak Ariza sendiri, dimana Gerindra sementara mengusung Ridwan Kamil sebagai Cagub, Ariza menjunjung tinggi sikap DPP Gerindra, pun ada nama Ariza sendiri didalamnya yang diusung Gerindra. Situasi politik dalam keadaan gamang bisa saja berubah sembilan puluh derajat. Apabila KIM benar benar pecah Kongsi soal Cagub dan Cawagub yang diusung, maka Gerindra atau Ariza Patria dengan Anies Baswedan pun bisa saja berafiliasi mencair kembali, “wait and see”.

Dinamika politik bisa berubah tiap saat. Terhadap Ariza Patria, diamati dari pernyataannya disejumlah media, apakah Gerindra akan mengusung dirinya Cagub atau Cawagub, ia tidak bisa mendahului keputusan partai. Ariza akan menyerahkan sepenuhnya kepada putusan DPP partai dan akan menjalankan apapun perintah partainya. Ariza Patria figur yang tidak banyak kasak kusuk, ia prinsipnya berpegang teguh pada amanah Partai Gerindra, soal kualitas dan kapasitas, adalah bukan kebetulan dirinya mendapat penugasan Gerindra menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta dua setengah tahun kemarin. Pada sisi itu, Ariza sudah selangkah lebih maju soal kelayakan dan kepantasan maju Cagub atau Cawagub DKI Jakarta.

Pada situasi tertentu, dalam pertarungan politik elektoral, faktor sistem dan pola strategi politik lebih menentukan daripada faktor figur, kendati dalam situasi yang lain figuritas merupakan faktor penting dibutuhkan. Artinya, Partai Koalisi dapat menjanjikan juga modal politik, modal sosial, dan modal ekonomi terhadap siapa Calon diusung melawan siapa dalam medan pertempuran. Koalisi Indonesia Maju dapat berfungsi maksimal sebagai mesin pendongkrak dan penentu, bahwa pertarungan besar akan mempertimbangkan pengaruh energi gabungan, termasuk pada sisi kesiapan mobilisasi dan anggaran politik.

Pertanyaan muncul, apakah soliditas parpol merupakan syarat perlu bagi kemenangan? atau apakah parpol merupakan mesin pemenangan utama, ataukah hanya sebagai pintu masuk menuju arena politik saja?

Bila solidaritas Parpol Koalisi menjanjikan keberadaannya sebagai penentu kemenangan, maka Koalisi Indonesia Maju sangat penting dibutuhkan kesepakatan mengusung Paslon Pilgub DKI Jakarta. Dalam hal ini, “Kenali diri sendiri, kenali lawan; maka kemenangan sudah pasti di tangan. Kenali medan pertempuran, kenali iklim, maka kemenangan akan sempurna”, kata Sun Zhu.

Koalisi Indonesia Maju dapat menentukan langkah-langkah politik yang diperlukan, menentukan siapa yang kemungkinan bisa berkoalisi dan siapa rival yang paling berat dengan mengenali medan pertempuran. KIM bisa menentukan langkah-langkah strategis yang perlu diambil. Suatu perhitungan politik yang membuahkan hasil kemenangan bila keputusan dapat diambil tepat waktu, didukung informasi yang relevan dan akurat. Lagi lagi kata Sun Zhu “Kenalilah musuhmu dan kenalilah dirimu, niscaya anda akan berjaya dalam ratusan pertempuran.”

Perebutan kekuasaan merupakan sarana bagi parpol, lebih dari itu fungsi perebutan kekuasaan merupakan pekerjaan parpol dalam konteks bernegara. Fungsi utama Partai Koalisi dapat mempertahankan kekuasaan guna mewujudkan program-program visi misi Presiden & Wakil Presiden, termasuk juga Kepala Daerah. Partai Koalisi dapat menjalankan fungsi artikulasi kepentingan, fungsi agregasi kepentingan, fungsi sosialisasi politik, fungsi rekrutmen politik, fungsi komunikasi politik dan juga fungsi mobilisasi dukungan masyarakat.

Positioning Partai Koalisi dapat membantu menentukan siapa Paslon yang akan layak diusung. Partai Koalisi dapat membantu proses membentuk identitas Paslon dan image positif terhadap Paslon yang diusung. Partai koalisi juga dapat membantu penyusunan langkah langkah strategis perjuangan politik, terutama strategi menaikkan elektabilitas Paslon, termasuk membantu mengarahkan sumber daya politik yang diperlukan.

Tentunya Koalisi Indonesia Maju adalah mesin politik yang kuat yang telah memenangkan Pilpres 2024. Paslon yang diusung akan menjadi referensi bagi masyarakat DKI Jakarta ketika mereka dihadapkan hitungan peluang kemenangan Paslon yang didukung oleh KIM.

KIM dapat membentuk dan menanamkan harapan, sikap, keyakinan, dan program perjuangan politik pemenangan. KIM dapat menawarkan bagaimana sebuah parpol atau paslon dapat membuat program yang berhubungan langsung dengan permasalahan aktual DKI Jakarta, konsep permanen yang dilakukan secara konsisten dan continue dalam membangun kepercayaan publik terhadap paslon yang diusung. Koalisi Indonesia Maju dapat mengemas pencitraan, publik figur dan kepribadian paslon yang diusung di Pilgub DKI Jakarta sebagimana KIM memenangkan Pilpres 2024 kemarin.

Mendapatkan popularitas yang positif merupakan langkah awal bagi calon pemimpin, untuk mendapatkan dukungan masyarakat. Namun popularitas belum cukup, karena harus dibarengi kredibilitas, kapabilitas dan integritas calon, atau hal hal yang berkenaan dengan karakter dan watak calon. Calon juga harus jelas latar belakangnya, pengalaman kepemimpinan, karir politik, wawasan, kemandirian, ide-ide pembangunan dan visi kepemimpinan membangun DKI Jakarta. Bila tidak memiliki syarat itu, maka ia hanya akan menjadi “pemimpin boneka” belaka.

Dalam hal ini kita tidak bermaksud menyinggung sosok Kaesang Pangarep diragukan track record dan performa nya, tapi ini pandangan umum secara normatif soal kriteria Calon Pemimpin DKI Jakarta yang diharapkan terukur. Pada sisi lain, masyarakat DKI Jakarta memiliki karakteristik dan latar belakang yang berbeda, rata rata pemilih rasional.

Hal demikian dapat menjadi rujukan Partai pengusung Paslon pada Pilkada DKI Jakarta. Nama-Nama Bakal Calon semua sudah dikantongi dan terpublikasi. Dalam hal ini, Partai koalisi memiliki kontrak kepentingan bersama untuk memperoleh kekuasaan dan kedudukan politik dalam pemerintahan.

Partai Koalisi dapat menjembatani beragam kepentingan untuk bersama-sama membangun dan menjalankan sebuah roda pemerintahan yang baik, tentu terdapat juga partai oposisi yang berbeda kepentingan, yang nanti barangkali juga akan menjadi partai koalisi pendukung Anies Baswedan atau terhadap Poros Ketiga pada Pilgub DKI Jakarta. Pada sisi ini, keberadaan Koalisi Indonesia Maju tentunya dalam rangka pemenuhan visi ideologi politik dari masing masing partai politik, dan secara bersama membentuk pemerintahan Prabowo-Gibran yang kuat bisa bertahan lama.

Pemerintahan Prabowo Gibran dipastikan mendapatkan dukungan mayoritas secara mutlak dari partai Koalisi yang ada di parlemen dalam rangka menguatkan jalannya pemerintahan Prabowo-Gibran dengan segenap kabinet nya. Keberadaan KIM di parlemen dinilai dapat membantu jalannya pemerintahan sekaligus menciptakan interaksi yang konstruktif antara Presiden dengan Parlemen.

Pada saat yang sama para elit partai koalisi, KIM dapat mempromosikan kepentingan nasional secara bersama. Namun, Pilgub DKI Jakarta bisa saja berpotensi merubah skema keberadaan Koalisi Indonesia Maju terhadap kepentingan nasional, bila arah pilihan KIM pecah kongsi, tidak searah atau berbeda mengusung Calon Gubernur & Wakil Gubernur DKI Jakarta November akan datang. Wallahualam Bissawab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *