Satusuaraexpress.co, Jakarta — Pemilihan Abang dan None Jakarta 2026 kembali menjadi sorotan. Bukan karena kemeriahan malam finalnya, melainkan munculnya pertanyaan dari sejumlah pemerhati budaya Betawi mengenai sejauh mana akar budaya lokal menjadi pertimbangan dalam menentukan sosok yang menyandang gelar Abang dan None Jakarta.
Herve Pierre Sidarta dari Jakarta Selatan dan Citra dari Jakarta Timur resmi terpilih sebagai Abang dan None Jakarta 2026 dalam malam final di Ciputra Artpreneur, Jakarta Selatan, Jumat (18/9/2026). Ajang tersebut diikuti 36 pasangan finalis dari lima kota administrasi dan Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu.
Namun, di balik penobatan tersebut, sejumlah tokoh budaya mempertanyakan arah penyelenggaraan ajang yang selama ini identik dengan identitas Jakarta dan unsur kebudayaan Betawi.
Pemerhati budaya Betawi sekaligus mantan anggota Dewan Kesenian Jakarta, Suaeb Mahbub, menyoroti pentingnya memperjelas posisi budaya Betawi dalam proses seleksi Abang None.
Menurutnya, persoalan yang perlu dibahas bukan sekadar mengenai latar belakang pribadi para peserta, melainkan bagaimana penyelenggara memastikan figur yang terpilih benar-benar memahami, mampu membawa, dan merepresentasikan kebudayaan Betawi.
“Ini bukan tentang tidak toleran, namun dari sejarah sejak awal ajang Abang None adalah kuat dengan kearifan lokal masyarakat Betawi,” ujar Suaeb.
BACA JUGA: Andre Taulany Resmi Nikahi Amanda Rigby, Segini Nilai Mahar yang Diberikan
Sorotan tersebut menjadi pertanyaan tersendiri bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Sebab, Pemprov sendiri menegaskan bahwa Abang None memiliki tugas sebagai representasi generasi muda sekaligus jembatan untuk memperkenalkan budaya dan potensi Jakarta kepada masyarakat nasional maupun dunia.
Bahkan, dalam malam final, Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menegaskan bahwa Abang dan None bukan sekadar pemegang gelar, tetapi membawa nama Jakarta serta nilai-nilai budaya yang harus dijaga.
Karena itu, muncul pertanyaan publik: seberapa kuat sebenarnya indikator pemahaman dan representasi budaya Betawi dalam proses penilaian Abang None Jakarta 2026?
Apakah cukup dengan kemampuan komunikasi, wawasan Jakarta, pariwisata, ekonomi kreatif, dan penampilan? Ataukah pemahaman mendalam mengenai sejarah, tradisi, bahasa, kesenian, nilai sosial, serta kearifan masyarakat Betawi juga menjadi indikator utama?
Pertanyaan tersebut penting dijawab secara terbuka agar polemik tidak berhenti pada persoalan identitas pribadi para pemenang.
Terlebih, Pemprov DKI menyebut Abang None Jakarta 2026 sebagai bagian dari upaya membawa budaya Jakarta menuju panggung dunia menjelang perjalanan Jakarta menuju usia 500 tahun pada 2027.
Jangan sampai ajang yang seharusnya menjadi etalase kebudayaan Jakarta justru membuat masyarakat Betawi bertanya-tanya: ke mana posisi budaya Betawi dalam menentukan sosok yang menjadi wajah Jakarta?
Kini bola berada di tangan Pemprov DKI dan penyelenggara untuk menjelaskan secara transparan kriteria, bobot penilaian, serta indikator budaya yang digunakan dalam menentukan Abang dan None Jakarta 2026.













