Berita  

Joe Biden Sempat Menyebut Alasan Perpindahan Ibu Kota Negara RI, ini Alasannya

Screenshot 20231208 092336 Instagram

Jakarta, Satusuaraexpress.co – Ibu kota negara rencananya akan resmi berpindah dari Jakarta di Pulau Jawa ke Nusantara di pulau Kalimantan pada awal tahun 2024 mendatang.

Selain itu, rencana Pemerintah RI akan menjadikan wilayah Jakarta juga sebagai Provinsi kawasan aglomerasi. Hal ini tertuang dalam draf Rencana Undang-Undang (RUU) tentang Provinsi Daerah Khusus Jakarta yang telah disepakatu oleh para anggita dewan sebagai RUU usul inisiatif DPR.

Berdasarkan definisi aglomerasi, merupakan kawasan perkotaan dalam konteks perencanaan wilayah yang menyatukan pengelolaan beberapa daerah kota dan kabupaten dengan kota induknya, sekalipun berbeda dari sisi administrasi.

Melansir CNBC Indonesia, ada salah satu alasan kenapa Ibu kota negara RI harus pindah. Sebelumnya hal demikian pernah disampaikan Presiden Amerika Serikat (AS) dalam pidato sambutan di kantor Direktur Intelijen Nasional AS kala itu pada tahun 2021.

Adapun saat itu Biden membicarakan soal perubahan iklim yang mengancam Jakarta akan tenggelam dalam waktu 10 tahun ke depan.

“Jika, pada kenyataannya, permukaan laut naik dua setengah kaki lagi, Anda akan memiliki jutaan orang yang bermigrasi, memperebutkan tanah yang subur,” katanya dalam pidato itu sebagaimana dipublikasikan whitehouse.gov.

“Apa yang terjadi di Indonesia jika proyeksinya benar bahwa, dalam 10 tahun ke depan, mereka mungkin harus memindahkan ibu kotanya karena mereka akan berada di bawah air?” tambahnya.

Ucapan Biden ini bukan tanpa alasan. Badan Antariksa AS, NASA ,mengatakan, meningkatnya suhu global dan lapisan es yang mencair membuat banyak kota di pesisir seperti Jakarta menghadapi resiko banjir dan juga luapan air laut yang semakin besar.

NASA mengatakan kenaikan laut global yang rata-rata sebesar 3,3 mm per tahun dan adanya tanda badai hujan makin intens saat atmosfer memanas, akan menjadikan banjir sebagai “hal biasa”. Sejak tahun 1990-an bahkan banjir besar telah terjadi di Jakarta dan musim hujan 2007 membawa kerusakan dengan 70% wilayah terendam.

NASA juga mengunggah gambar landsat yang menunjukkan evolusi Jakarta dalam tiga dekade terakhir. Adanya pembabatan hutan dan vegetasi lain dengan permukaan kedap air di daerah pedalaman di sepanjang sungai Ciliwung dan Cisadane telah mengurangi jumlah air yang dapat diserap.

Ini menyebabkan adanya limpahan serta banjir bandang. Populasi wilayah Jakarta lebih dari dua kali lipat antara tahun 1990 dan 2020 telah membuat lebih banyak orang yang memadati dataran banjir dengan resiko tinggi.

Hal ini kemudian diperparah oleh saluran sungai dan kanal yang menyempit atau tersumbat secara berkala oleh sedimen dan sampah. Sehingga sangat rentan terhadap luapan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *