Berita  

Telegram Polda Metro Jaya Diabaikan, Ketua IPW Bilang Begini

IMG 20221022 123000
Telegram Polda Metro Jaya yang diterbitkan pada tanggal 29 Agustus 2022 dan di tanda tangani Direktur Reserse Narkoba, Kombes Mukti Juharsa.

Jakarta, Satusuaraexpress.co – Kepada para perwira diwajibkan untuk melakukan pengawasan melekat terhadap anggota supaya tidak melakukan pemerasan (86) di lapangan. Setiap pelanggaran menjadi tanggung jawab pribadi masing-masing anggota, baik secara etika maupun pidana

Demikian isi keterangan telegram Polda Metro Jaya yang diterbitkan pada tanggal 29 Agustus 2022 dan di tanda tangani Direktur Reserse Narkoba, Kombes Mukti Juharsa.

Selanjutnya, Polisi ditekankan untuk bekerja secara profesional dalam melakukan penanganan perkara. Dari mulai tahap penyelidikan sampai tahap penyidikan.

Polisi diminta untuk maksimal tidak menjadikan penanganan kasus narkoba sebagai ajang transaksional untuk mencari keuntungan pribadi atau kelompok.

Selain itu, anggota tidak boleh terlibat dalam penyalahgunaan narkoba, baik sebagai pengguna, bandar maupun sebagai backing.

Tidak boleh menerima sesuatu dalam bentuk apapun dari tersangka maupun keluarganya terkait penanganan kasus.

Tidak melakukan pemerasan dengan dalih rehabilitasi atau restorative justice.

Tidak memanfaatkan pengacara/panti rehabilitasi untuk meminta sesuatu terhadap tersangka maupun keluarga termasuk dengan alasan sebagai fee pengacara maupun biaya rehabilitasi.

Meski demikian, bagaimana dengan apa yang sudah dilakukan oleh Salah satu kepolisian di bilangan Jakarta Barat?

Belakangan ini diduga Kepolisian tersebut telah memanfaatkan salah satu panti rehabilitasi terkait penanganan kasus narkoba.

Kejadian bermula saat seorang pria yang diamankan pada Rabu 21 September 2022 sekira pukul 22.30 wib. Diduga pria berinisial RS tersebut kedapatan menyimpan barang bukti Ganja satu linting didalam kamarnya, di Jalan Kamal Raya, Cengkareng, Jakarta Barat.

RS lalu diamankan berdasarkan Surat Perintah Penangkapan Nomor: SP-Kap/337AX/2022/Nkb Res-Jb tertanggal 21 September 2022.

Beberapa hari kemudian, pria yang berprofesi pedagang burung merpati itu dilimpahkan ke salah satu panti rehabilitasi berlebel Yayasan Cakra Sehati, di Jalan Bangka XI C No.36 A-B, Mampang, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.

Selama dua minggu disana, RS akhirnya dapat kembali pulang ke rumah dan diduga dengan syarat bermain uang sebesar Rp3.000.000 ditambah uang makan dan swab Rp.450.000.

Semula RS mengaku diminta puluhan juta rupiah, namun keluarganya merasa tak sanggup.

Sebelum dipulangkan, RS diminta menyepakati surat INFORMED CONSENT RAWAT JALAN dari yayasan tersebut.

Dia dinyatakan sebagai pasien rawat jalan yang diwajibkan mengikuti beberapa peraturan didalamnya.

Antara lain, RS wajib melapor dalam satu kali pertemuan selama satu bulan menjalani rawat jalan tersebut. Apabila melanggar ketentuan itu, maka dikenakan membayar biaya sebesar Rp500.000.

Ada juga biaya lainya sebesar Rp10.000.000, yakni jika selama rawat jalan, RS terbukti urine test positif narkoba atau alkohol saat pengecekan di yayasan atau di rumah.

Tak berhenti disitu, dikutip dari media online Pedulibangsa.co.id, tiga pemuda bernama Reynaldi Rahman, Fariza Rayuda dan Andrea Lukas diduga mengalami hal serupa.

Dalam narasi dijelaskan ketiga pemuda tersebut diduga diamankan ke Polsek Tanah Abang dengan barang bukti tembakau. Ketiganya kemudian dilimpahkan ke yayasaan cakra sehati.

Penangkapan bermula dari Reynaldi di rumahnya, di Jalan Budi Raya kemanggisan, pada Rabu 11 Oktober 2022, pukul 12.30 wib. Reynaldi ditangkap dalam posisi tidur, dan barang bukti tembakau diambil dari tempat sampah kamarnya.

Kekinian, ketiga pemuda tersebut sudah kembali pulang ke rumah masing-masing dan diduga dengan syarat bermain uang yang nilainya berbeda-beda.

Untuk Fariza Rayuda dan Andreas Lukas ditebus oleh keluarganya dengan nominal uang sebesar Rp15.000.000 perorang. Sedangkan Reynaldi ditebus keluarganya sebesar Rp7.000.000, di minggu sore.

Hal tersebut disampaikan Asep, kakak kandung Reynaldi. “Saat diamankan adik saya dalam posisi tidur dan barang bukti berupa tembakau ada di tempat sampah luar kamar adik saya,” ucap Asep kepada wartawan.

Ketua Indosian Police Watch Sugeng Teguh Santoso menanggapi kejadian yang dialami para korban penyalahguna narkoba di panti rehabilitasi tersebut yang usai ditangkap polisi. Ia mengungkapkan hal ini terjadi diduga karena adanya kerjasama antara polisi dengan pihak panti rehabilitasi itu.

“Iya, jadi panti rehab seperti ini abal-abal yah, yang kemudian menjadi ajang membebani para pecandu yang terkena operasi kepolisian, kemudian dirujuk untuk rehab. Itu abal-abal yah!, itu ada kerjasama dengan oknum kepolisian,” ungkapnya saat dikonfirmasi Satusuaraexpress.co, Jumat 21 Oktober 2022.

Sehingga, kata Sugeng, menjadi kinerja polisi dipertanyakan. Sebab, ini sebagai cara untuk mengeluarkan tersangka, bukan untuk direhabilitasi dengan benar. “Kalau rehab yah, harus rehab yang benar, seperti yang dibuat pemerintah, salah satunya rehab di Lido,”sambungnya.

Terlepas dari itu, Sugeng mengaku sependapat dengan surat edaran telegram Polda Metro Jaya tersebut. Menurutnya, langkah Polda Metro Jaya ini tidak boleh diabaikan dan sudah sepatutnya dijalankan dengan baik.

“Saya setuju dengan surat edaran telegram Polda Metro Jaya. Langkah ini adalah cara untuk mengurangi terjadi penyalah gunaan kewenangan. Jadi, ini tidak boleh diabaikan, harus dijalankan dengan baik,” pintanya.

Oleh karena itu, pinta Sugeng lagi, pemerintah dalam hal ini Kementerian Sosial sebagai regulator rehabilitasi swasta agar dapat memberikan seangsi tegas sesuai peraturan yang berlaku.

“Iya sebaiknya pemerintah khusus Kementerian Sosial sudah sepatutnya memberikan sangsi tegas sesuai peraturan. Sebab, ini bisa berdampak kepada yayasan lain yang sudah berjuang mengurus pasien dengan cara yang humanis, dan tidak memaksakan kehendak, apa lagi bagi orang yang tidak mampu, itu bisa diberikan program rawat inap,” ucapnya.

“Intinya, jangan hanya orientasi bisnis saja, karena yayasan rehabilitasi adalah sebuah lembaga sosial yang melayani korban narkoba, jangan keluar dan lupa dari cita-cita mulia sebuah yayasan didirikan demi anak bangsa bukan sebatas orientasi mencari nominal rupiah,” sambungnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *