Polemik Adzan Berbuntut Panjang, Giliran Netizen Serukan Boikot Produk Sumbar Hingga Nasi Padang Diharamkan

28637-ilustrasi-yaqut-cholil-qoumas
ilustrasi-yaqut-cholil-qoumas

Satusuaraexpress.co – Polemik perbandingan azan dengan gonggongan anjing yang dilontarkan oleh Menteri Agama (Menag) Yaqut Yaqut Cholil Qoumas berbuntut panjang. Karena ucapannya itu, Menag Yaqut sampai diharamkan menginjakan kakinya di Sumatera Barat. Warga di sana mengaku sakit hati karena ucapan tersebut.

Teranyar, seorang netizen justru menyerukan boikot produk – produk dari Sumatera Barat termasuk nasi padang. Seruan boikot itu langsung dikecam keras Ketua Umum KNPI, Haris Pertama.

Dalam unggahan di akun twitter pribadinya, Haris menunjukan sebuah foto tangkapan layar dari seorang pengguna twitter dengan nama akun @K3nshin_KR. Akun itu bahkan mengatakan membeli nasi padang haram hukumnya.

“Woii Nusantara… Boikot produk Minang. Haramkan pembelian Nasi Padang. TakeBeer,” cuit netizen K3nshin_KR dalam foto tangkapan layar itu dikutip dari Populis.id Senin (7/2/2022).

Dalam unggahannya itu, Haris mengecam keras seruan tersebut, dia memastikan dalam masakan padang tidak ada makanan yang haram. Sebagai putra Minang, Haris mengaku sangat tersinggung.

“Maksudnya manusia ini apa ya??? Kau pikir makanan padang itu ada yang haram??? Saya sebagai orang Minang tersinggung sekali,” kata Haris Pertama.

Pernyataan Haris itu kemudian mendapat tanggapan dari sejumlah pengguna media sosial lainnya.Salah satunya adalah @KangengRadeen.

“Devisa terbesar orang Minang di ganggu. Lebih mulia mereka meributkan Netizen yang Haramkan beli nasi Padang. Daripada mempersoalkan orang Minang yang Mengharamkan Menag & Mengusir Mensos dari Padang. Lucu gak sih knpiharis,” ujarnya.

“Si cemen yg pakai akun gak jelas, giliran keciduk rame2 abis kau. Saya selaku orang minang sangat2 tersinggung,” tulis akun @siboniboni06

“Tolak Mentrinya, baku hantam rebutan bantuannya.. halahh preeeettttt,” tulis akun @Femmymanroe menyindir LKAAM Sumbar yang menolak kedatangan Yaqut namun tetap menerima sumbangan dari Menag ketika warga setempat dilanda bencana gempa beberapa hari lalu.

(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.