Etika yang Harus Diperhatikan Ketika di Restoran dan Bioskop

Screenshot 2022 01 09 09 34 51 51 c37d74246d9c81aa0bb824b57eaf7062
Suasana Bioskop dan Restoran semasa pandemi. (foto Maheswari Alvina Indita)

Penulis: Maheswari Alvina Indita | Editor: Ghugus Santri

Saat ini Indonesia sudah mulai memulihkan industri bisnis, ditandai dengan lebih dari seribu Bioskop dan Resto kembali dibuka. Kedua industri tersebut termasuk ke dalam bisnis yang paling banyak menarik pengunjung karena terjangkau bagi semua kalangan masyarakat.

Harga yang ditawarkan kedua bisnis ini juga sangat beragam tergantung bagaimana konsep pasarnya. Hanya karena masa pandemi saja kedua bisnis ini dapat terhenti lajurnya, namun pada perjalanannya industri film dan makanan ini menambah akses baru yakni kanal nonton dan aplikasi memesan makanan agar masyarakat tetap dapat merasakan visi kedua industri tersebut, khususnya sebagai sarana hiburan.

Industri perfilman Indonesia membuka Bioskop sebagai sarana kesempatan bagi orang-orang bertalenta untuk bersaing dengan negara lain dalam pembuatan film dan mendapatkan hak filmnya dinikmati masyarakat luas. Bagi penonton, peran Bioskop dengan film-film yang ditayangkan menyajikan ajaran hidup serta terapi atasi depresi.

Selain itu, bisnis Resto juga penting bagi kelangsungan hidup, meringankan pekerjaan rumah tangga, dan dapat meningkatkan suasana hati. Hormon serotonin faktanya dapat diraih dari makanan berkarbohidrat, tetapi bisa juga dari makanan yang kita inginkan. Dari banyaknya peran dan juga fungsi kedua industri bisnis ini, perhatian masyarakat tidak pernah menurun justru semakin hari antusias semakin bertambah.

Maka dari itu, ketika pemerintah Indonesia membuka kembali industri Bioskop dan Resto, intensitas bepergian masyarakat membeludak dan kerap kali mengabaikan protokol kesehatan serta etika.

Semakin banyak masyarakatnya maka semakin beragam pola tingkah dan pikirnya. Ramainya intensitas pengunjung disertai dengan beragamnya model masyarakat sangat membuat pihak bisnis geleng-geleng kepala. Bagaimana tidak? Kebiasaan masyarakat Indonesia ternyata belum juga membaik, masih banyak masyarakat yang dinilai kurang beretika, malas menjaga kebersihan dan sulit berempati dengan sesama pengunjung dan karyawan.

Pihak Resto mengeluhkan perilaku buruk pelanggan yang terlalu menjadi “Raja”. Di masa pandemi budaya dalam Resto mengalami sedikit perubahan diantaranya adanya penerapan protokol kesehatan dalam antrean, bahkan sudah ada Resto yang menghapuskan budaya antre ataupun memesan makanan secara langsung.

Sudah banyak Resto yang mengganti cara memesan makanan dari yang langsung bicara menjadi memesan makanan menggunakan mesin. Bagi beberapa Restoran cepat saji, para pelanggan diharapkan membuang sendiri sampah bekas makan dan minum.

Pelanggan mulai dituntut untuk mandiri dalam melayani dirinya sebagai wujud kerja sama dan saling menghormati antar pelanggan dengan karyawan. Namun, tetap saja masyarakat masih mengalami krisis sadar diri dan beralasan kurangnya pemberitaan atau informasi dari pihak Resto.

Selain itu, petugas Bioskop, khususnya petugas kebersihan kerap kali mengeluhkan perilaku penonton yang gemar membuang sampah sembarangan. Banyak penonton yang meninggalkan bungkus makanan maupun minuman di kursi Bioskop.

Tidak hanya itu, sisa-sisa makanan juga dibiarkan berantakan di atas kursi, sedangkan petugas kebersihan diberi kewajiban mengerjakan tugasnya dalam kurun waktu yang sangat singkat. Bayangkan bagaimana jika terlalu banyak sampah, sisa-sisa makanan bahkan tumpahan minuman harus segera dibersihkan serta dikeringkan sebelum calon penonton masuk ke Studio?

Tentu hal ini akan berdampak buruk seperti telat masuk Studio, pengunduran jam tayang atau kursi yang belum bersih sempurna sehingga kurang menciptakan kenyamanan bersama, khususnya antar sesama penonton.

Sebagai masyarakat pandai, perlu bagi kalian untuk mengetahui solusi dari berbagai permasalahan di atas. Penting bagi kita menjaga etika di lingkungan, termasuk Bioskop dan Restoran diantaranya menaati peraturan untuk tidak membuang sampah sembarangan, larangan ini berlaku di semua tempat dan sudah menjadi kewajiban kita untuk menaati peraturan demi kenyamanan bersama.

Perlu mengasah sikap empati, berbeda dengan simpati, empati disertai dengan tindakan nyata yang timbul karena dorongan nurani. Contoh sikap empati dalam hal ini adalah menaruh sudut pandang kita menjadi orang lain apabila ingin melanggar peraturan, menyerobot antrean atau berisik di area tertentu.

Terakhir, membiasakan hidup mandiri seperti membuang sampah bekas makan dan minum ditempat yang telah disediakan petugas atau karyawan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *