Kamis, Desember 2, 2021
BerandaHeadline65 Persen Long Covid di RI, Dikhawatrikan Akan Jadi Bom Waktu

65 Persen Long Covid di RI, Dikhawatrikan Akan Jadi Bom Waktu

Satusuaraexpress.co – Tak sedikit para pasien COVID-19 yang masih mengalami gejala usai sembuh dari infeksi Corona yang sering disebut sebagai long Covid atau post COVID-19. Berdasarkan data Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), tercatat ada 65 persen pasien COVID-19 di Indonesia yang mengalami long Covid.

Koordinator Pengelola Rujukan dan Pemantauan RS Kementerian Kesehatan RI dr Yout Savithri mengatakan kondisi itu bakal menjadi bom waktu untuk layanan fasilitas layanan kesehatan (fasyankes) kembali terbebani lonjakan pasien.

“Kami lagi mendiskusikan penyakit long COVID-19, artinya penyakit long COVID-19 adalah bom waktu. Karena saya ingat sekali dokter Erlina (dr Erlina Burhan, SpP) sempat bilang bahwa untuk pasien COVID-19 ini 65 persen ada gejala sisa bahkan ada fibrosis paru,” ujar Yout dalam webinar online. Kamis (7/10/2021).

“Ada sembilan organ yang kena dan ini harus kita antisipasi bagaimana mengatasi pasien long COVID-19 untuk mengatasi pasien-pasien COVID ini untuk meningkatkan kualitas hidupnya,” sambungnya.

Untuk menghadapi risiko tersebut, perlu adanya upaya pemerintah dalam menyediakan fasyankes, yang dilengkapi dengan obat-obatan. Ia pun mengingatkan sejumlah organisasi profesi di Indonesia untuk menerapkan manajemen klinis penanganan pasien long Covid.

Apakah pasien dengan long Covid masih ditanggung pemerintah?

Yout mengatakan tengah mengkaji kebijakan khusus yang terkait dengan penanganan pasien long Covid ini. Namun, dipastikan biaya bagi penyintas Covid yang masih mengalami gejala berkepanjangan akan ditanggung pemerintah, jika terdaftar sebagai peserta jaminan kesehatan nasional (JKN).

“Kami lagi membuat kebijakan khusus terkait Long COVID-19 ini, kami lagi meminta masukan dari organisasi profesi, bukan hanya PDPI ya, kami sudah pelajari kondisi klinis apa yang terkait dengan long COVID,” katanya.

“Nah masalahnya juga adalah kebijakan dari penganggaran ini, kalau dari segi regulasi ya sudah jelas seharusnya BPJS menjamin untuk penyakit long COVID ini sesuai dengan kondisi pasien itu,” lanjutnya.

Meski begitu, Yout mengatakan masih terus membahas strategi penanganan long Covid bersama dengan sejumlah organisasi profesi kesehatan.

“Sesuai KMK bila ada lanjutan akibat penyakitnya, boleh dilakukan perawatan lanjutan, dan dilanjutkan sesuai dengan jaminan kepesertaan,” bebernya.

“Iya artinya kalau peserta itu JKN, ya dijamin oleh JKN,” pungkasnya.

Sebelumnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan gejala yang berkepanjangan atau long Covid ini bisa terjadi dalam waktu beberapa minggu hingga bulan. Beberapa gejalanya antara lain nyeri di dada, sakit kepala, nyeri di otot, mudah lupa dan depresi, kehilangan kemampuan mencium (anosmia), napas pendek, diare, dan muncul ruam.

Namun, para penyintas Corona yang memiliki riwayat bergejala berat hingga dirawat di rumah sakit, ada kemungkinan mengalami penyakit jangka panjang seperti penyakit yang terkait dengan jantung dan pernapasan.

(*)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular