Sabtu, Oktober 16, 2021
BerandaJabodetabekJawa TengahPolisi Minta Warga Kendal Isolasi Terpusat: Isoman Picu Klaster Keluarga

Polisi Minta Warga Kendal Isolasi Terpusat: Isoman Picu Klaster Keluarga

Kendal, Satusuaraexpress.co – Kendal, tak ingin warganya di kendal jawa tengah terjadi seperti kejadian di bekasi satu keluarga meninggal saat menjalani isolasi mandiri akibat terpapar COVID-19.

Polisi meminta warga Kendal bersedia diisolasi terpusat. Polisi menyebut isolasi mandiri (isoman) memicu munculnya klaster keluarga.

“Ada yang ayahnya isoman, anaknya umur 3 tahun kena (COVID-19). Kalau misal sebelumnya terpaksa isoman karena keterbatasan tempat atau fasilitas, sekarang ini desa-desa, kecamatan-kecamatan sudah tersedia tempat isolasi terpusat,” ujar Kapolres Kendal, AKBP Yuniar Ariefianto SH, SIK, MH dalam keterangan tertulis, Sabtu (10/7/2021).

AKBP Yuniar mencontohkan di Desa Cepiring, 31 warga sudah bersedia diisolasi terpusat. Lokasi isolasi terpusat di sana adalah SDN 5 Cepiring, yang berada di belakang Mapolsek Cepiring.

“Jumlah masyarakat yang melakukan isolasi terpusat sebanyak 31 orang, dengan rincian laki-laki 21 orang, perempuan 10 orang. Ruangan SDN 5 Cepiring yang digunakan untuk isolasi sebanyak 5 ruangan, dengan rincian 3 kelas digunakan untuk laki-laki, 2 Kelas digunakan untuk perempuan,” jelas AKBP Yuniar.

AKBP Yuniar menuturkan saat ini Desa Cepiring menjadi percontohan bagi desa-desa lainnya di Kendal. AKBP Yuniar belajar dari lonjakan kasus di Kudus yang, di mana klaster keluarga muncul di mana-mana karena isoman yang tak disiplin prokes.

“Mengadopsi penanganan melonjaknya kasus COVID di Kudus waktu lalu, 5 Pilar ( Pemkab, Kodim, Polres, Kejari beserta tokoh agama, tokoh masyarakat, atau potensi komunitas) di Kendal berkolaborasi membentuk formula penanganan COVID dengan metode isolasi terpusat,” terang Yuniar.

Yuniar menyebut 5 pilar Kendal sepakat metode isolasi terpusat membuat penularan COVID-19 dapat dikendalikan. Polisi bersama TNI, Satpol PP dan Dinkes Kendal kemudian ‘memaksa’ warga yang isoman untuk ke mau diisolasi terpusat.

“Keharusan memisahkan anggota keluarga yang terpapar dengan anggota keluarga yang sehat dari hasil tracing secara masif, dan dialihkan di tempat isolasi terpusat yang disepakati Satgas COVID-19 untuk efektifitas memutus mata rantai COVID-19,” ucap Yuniar.

Yuniar mengakui awalnya metode isolasi terpusat ini ditolak beberapa warga. Butuh waktu dan kesediaan dari 5 pilar mengedukasi warga agar paham tujuan baik isolasi terpusat.

“Jadi metodenya kami jemput paksa masyarakat yang terpapar COVID dengan klasifikasi gejala ringan, agar yang lain, khususnya yang satu rumah agar tidak tertular. Merubah pola pikir dan menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk soal bahaya COVID,” jelas Yuniar.

Yuniar berharap ke depan warga tak perlu lagi dipaksa isolasi terpusat.

“Fasilitasnya lengkap, ada tempat tidur, TV, internet, air bersih, tempat sampah serta fasilitas MCK,” papar dia.

Anggaran untuk isolasi terpusat ini, lanjut Yuniar, Rp 69 juta. Anggaran diambil dari dana desa setempat.

“Saya sangat berharap masyarakat mendukung metode ini, tidak mengedepankan ego untuk isoman. Bila anda positif COVID, isoman dan sembuh itu bagus,” ujar dia.

“Tapi bila anda isoman, menularkan COVID kepada orang lain, dan terjadi sesuatu yang buruk pada orang lain, baru anda akan menyesal dan merasa bersalah,” pungkas AKBP Yuniar. (*)

Perkembangan Virus Corona


Most Popular

Recent Comments