Selasa, September 21, 2021
BerandaEkonomi9 dari 10 Daerah Paling Defisit Kurban Berada di Jawa

9 dari 10 Daerah Paling Defisit Kurban Berada di Jawa

Reporter : Aldiansyah

Satusuaraexpress.co – Institute For Demographic and Poverty Studies (IDEAS) menyampaikan sembilan dari sepuluh wilayah defisit daging kurban terbesar berada di pulau Jawa pada momen Iduladha tahun ini.

Wilayah tersebut yaitu Garut (-1.96 ribu ton), Cianjur (-1.91 ribu ton), Brebes (-1.62 ribu ton), Grobogan (-1.33 ribu Ton), Jember (-1.3 ribu ton), Pamekasan (-1.24 ribu ton), Probolinggo (-1.13 ribu ton), Cirebon (-1.13 ribu ton), Bangkalan (-1.07 ribu ton).

“Sembilan dari sepuluh daerah paling defisit daging kurban tersebut didominasi oleh daerah pedesaan Jawa, satu daerah yang berada di luar Jawa yaitu Kabupaten Bone dengan defisit sebesar 1.070 ton,” jelas Peneliti IDEAS Askar Muhammad, dalam diskusi hasil riset yang bertajuk ‘Ekonomi Kurban 2021, Rabu, (14/07).

Askar menilai banyaknya daerah defisit kurban berada di Jawa terjadi karena jumlah mustahik atau masyarakat bawah di daerah tersebut lebih banyak dibanding potensi Pekurban atau Shohibul Qurban yang diproyeksikan.

Baca Juga : 

Berbeda dengan daerah pedesaan Jawa tersebut, DKI Jakarta sebagai metropolitan terbesar di Jawa berpotensi menghasilkan 22 ribu ton daging kurban, Sedangkan kebutuhan mustahik di Jakarta hanya sekitar seribu ton, sehingga terdapat potensi surplus 21 ribu ton daging di Jakarta.

Dari perhitungan IDEAS, selain Jakarta daerah yang berpotensi mengalami surplus daging kurban adalah Bogor Raya, Depok dan Bekasi Raya (11 ribu ton), Bandung Raya (6 ribu ton), Tangerang Raya (5 ribu ton), dan Surabaya Raya (5 ribu ton).

“Surplus daging kurban terjadi karena kelas menengah-atas muslim terkonsentrasi di perkotaan utama Jawa tersebut, maka potensi kurban terbesar kami perkirakan datang dari wilayah-wilayah ini,” kata Askar.

Askar menambahkan bahwa kesenjangan antara potensi dan kebutuhan daging kurban ini menimbulkan potensi distribusi kurban yang tidak merata. Dengan demikian, terdapat potensi mismatch yang besar dalam penyaluran daging kurban jika tidak dilakukan rekayasa sosial.

“Tanpa rekayasa sosial, distribusi daging kurban berpotensi hanya beredar di wilayah yang secara rata-rata konsumsi daging-nya justru sudah tinggi,” tutur Askar.

Dari fakta potensi daerah surplus-minus kurban ini, maka program pendistribusian hewan kurban keluar dari daerah asal shahibul qurban yang banyak dilakukan lembaga amil zakat saat ini adalah tepat dan positif. (aldi)

Perkembangan Virus Corona


Most Popular