MUI : Warga yang Berada di Zona Merah, Baiknya Jum’atan Diganti Dengan Shalat Dzuhur Dirumah

masjid ibadah

Satusuaraexpress.co – Pengetatan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) DKI Jakarta mengatur ibadah dilakukan di rumah. Terkait soal Salat Jumat berjamaah, Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas menyampaikan soal fatwa MUI.

“Fatwa MUI, jika di suatu daerah itu penyebaran virusnya tidak terkendali atau alias berada di zona merah, maka sebaiknya umat Islam tidak melaksanakan salat berjamaah. Termasuk Salat Jumat. Jadi mereka salat berjamaah di rumah saja. Jadi cukup diganti dengan Salat Zuhur,” ujar Anwar Abbas, dikutip dari detik.com, Rabu (23/6/2021).

Kebijakan meniadakan Salat Jumat di Jakarta bukan hal baru. Kebijakan ini pernah diterapkan oleh Gubernur Anies Baswedan di masa-masa awal pandemi virus Corona tahun lalu.

Pemerintah telah menetapkan status Jakarta zona merah sehingga harus diperketat. Untuk itu, Anwar Abbas meminta agar masyarakat di sana ikuti kebijakan pemerintah DKI Jakarta.

“DKI kan luar biasa orang keluar masuk. Pemerintah sudah menetapkan di daerah mana yang sangat tinggi, dan di mana yang sedang, di mana yang rendah,” ucap Anwar.

Namun, Anwar meminta agar pemerintah menerapkan status kawasan atau daerahnya tidak asal memutuskan. Kebijakan itu perlu didasarkan atas data lapangan dan pendapat ahli.

“Cara menentukan ini tidak merah itu merah, menentukan bukan pemerintah semata, tapi berdasarkan fakta dan juga para ahli. Kadang, ada bupati main ngomong aja, padahal menurut para ilmuan-nya bilang masalah itu nggak benar,” ujarnya.

Untuk diketahui, MUI telah mengeluarkan fatwa mengenai salat Jumat pada tahun 2020. Fatwa tersebut berjudul ‘Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 14 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Ibadah Dalam Situasi Terjadi Wabah COVID-19’.

Ada 9 ketentuan hukum yang mendasari fatwa itu. Pada ketentuan ke-3 berbunyi bisa meninggalkan salat Jumat apabila seseorang berada di kawasan yang potensi penularannya tinggi. Berikut ini isinya:

3. Orang yang sehat dan yang belum diketahui atau diyakini tidak terpapar COVID-19, harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a. Dalam hal ia berada di suatu kawasan yang potensi penularannya tinggi atau sangat tinggi berdasarkan ketetapan pihak yang berwenang maka ia boleh meninggalkan salat Jumat dan menggantikannya dengan shalat zuhur di tempat kediaman, serta meninggalkan jamaah shalat lima waktu/rawatib, Tarawih, dan Ied di masjid atau tempat umum lainnya.

Muhammadiyah Dukung Zona Merah Tiadakan Jumatan

Muhammadiyah pun setuju dan menyebut salat Jumat pun lebih baik diganti dengan salat zuhur di rumah. Hal itu demi mencegah lonjakan kasus COVID-19.

“Betul. untuk daerah merah dan tingkat penyebaran wabah tinggi. Maka salat berjamaah, termasuk (Salat) Jumat, lebih baik di rumah saja,” ucap Ketua Pimpinan Pusat Muhammdiyah Dadang Kahmad,, Rabu (23/6/2021).

Kemudian, secara terpisah, Sekjen PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti menyebut, MUhammadiyah mendukung kebijakan PPKM dari pemerindah. Termasuk soal aturan beribadah.

“Muhammadiyah mendukung keputusan pemerintah tentang PPKM. Sebaiknya umat islam mematuhi kebijakan pemerintah untuk kebaikan bersama,” kata Abdul Mu’ti. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *