Jumat, Oktober 22, 2021
BerandaHeadlineCovid-19 adalah Pandemi Zoonosis ke tiga di Abad ke 21. 

Covid-19 adalah Pandemi Zoonosis ke tiga di Abad ke 21. 

Satusuaraexpress.co – Covid-19 mengingatkan kembali kepada kita sejumlah pandemi yang disebabkan zoonosis pada abad ke-20, yaitu pandemi flu Spanyol (1918), flu Asia (1957), dan flu Hongkong (1968) . Flu Spanyol dengan kematian sekitar 20 juta orang.

Seperti diketahui zoonosis atau penyakit zoonotik adalah penyakit yang secara alami dapat menular dari hewan vertebrata ke manusia atau sebaliknya.

Zoonosis disebabkan oleh patogen seperti bakteri, virus, fungi, serta parasit seperti protozoa dan cacing. Diperkirakan lebih dari 60% penyakit infeksius pada manusia tergolong zoonosis.

Di seluruh dunia, timbul kewaspadaan terhadap penyakit infeksius yang baru muncul (emerging infectious disease atau EID) serta penyakit infeksius yang muncul kembali (re-emerging infectious disease), di mana mayoritas penyakit- penyakit tersebut merupakan zoonosis.

Covid-19 adalah pandemi zoonosis ke tiga yang muncul di abad ke 21.

Ada tiga pandemi, yaitu Severe Acute Respiratory Syndrome atau SARS (2003). H1N1 flu babi (2009), dan Covid-19 yang terjadi saat ini. Di antara rentang waktu tersebut, dunia nengalami epidemi regional berkali- kali, seperti Nipah (1998) ,
West Nile fever (2002).H5N1 flu burung (2003),  Middle East Respiratory Syndrome atau MERS (2012), Zika (2015), dan Rift Valley Fever (2016).

Covid-19 telah menyebar ke seluruh dunia, para ahli menyatakan ini adalah produk dari seleksi evolusi alamiah dan sangat mungkin sumbernya adalah kelelawar sama seperti ebola, SARS, MERS, Nipah, dan Marburg. Bukan berasal dari suatu konspirasi yang berasal dari laboratorium atau hasil rekayasa genetik.

Penelitian telah membuktikan bahwa ebola menyebar dari kera dan kelelawar di Kongo, SARS dari musang dan kelelawar di China, MERS dari unta dan kelelawar di Arab Saudi, dan Nipah dari babi dan kelelawar di Malaysia. Flu babi di Meksiko dari peternakan babi, flu burung dari unggas di Hongkong.

Selain itu menebar melalui vektor seperti West Nile fever  dari burung dan nyamuk di Uganda, zika dari kera dan nyamuk di Uganda, dan Rift Valley fever dari ternak dan nyamuk di Kenya.

Peter Dazak, ahli ekologi penyakit, mengatakan, bahwa 70 persen penyakit yang baru muncul pada manusia bersumber zoonotik. Ini dipengaruhi evolusi genetik, perubahan demografi, lingkungan atau perubahan iklim yang mempengaruhi ekosistim.

Ditengah belum pastinya kapan berakhir pandemi Covid-19, pemerintah Indonesia mulai mewacanakan kehidupan new normal. Masyarakat diharapkan dapat beraktivitas seperti biasa, tetapi dengan cara yg baru.

Sambil menunggu hasil penelitian para ahli menemukan obat dan vaksin terhadap Covid-19, maka kehidupan sosial harus dimulai tetapi dengan penuh kesadaran menerapkan pola hidup sehat secara disiplin sesuai dengan ketentuan protokol yang telah ditetapkan oleh WHO.

Istilah new normal life sudah menyebar di media, sebuah berita di Source Global Times berjudul ” New Normal Life in Outbreak” pada tanggal 12 Februari 2020 cukup menyentak, padahal waktu itu pandeni Covid19 baru menyerang Wuhan di China, Italy dan beberapa negara di Eropa.
Guna mencegah penularan Covid-19 yang meluas, pemerintah memberlakukan PSBB, masyarakat dihimbau untuk tinggal dirumah, bekerja dari rumah . Bahkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) berskala mikro mulai diterapkan kembali sejak 1 Juni hingga.14 Juni diseluruh provinsi di Indonesia. Keputusan ini disampaikan Menko Perekonomian sekaligus.Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional ( KPC-PEN) Airlangga  Hartarto dalam konferensi pers yang disiarkan di kanal YouTube Sekretariat Presiden.

Menurut Wiku Adisasmita Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 _new normal_ adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal namun dengan ditambah menerapkan protokol kesehatan menurut WHO guna mencegah terjadinya penularan Covid-19.
Hampir semua negara menghimbau masyarakat untuk tidak beraktivitas diluar rumah (stay home).
Kehidupan yang berubah akibat pandemi Covid-19 merupakan hal yang tidak dapat dihindari. Oleh sebab itu, masyarakat harus dapat hidup berdampingan dengan Covid-19.

Pandemi Covid-19 di Indonesia , yang pasien pertamanya diumumkan pada bulan Maret 2020, secara drastis telah mengubah kehidupan masyarakat. Keputusan pemerintah untuk memberlakukan PSBB pada waktu itu berdampak luas, kegiatan belajar- mengajar, yang biasanya dilakukan melalui pertemuan fisik, harus diganti dengan pertemuan jarak jauh. Kantor kantor pemerintah dan swasta meliburkan pegawainya. Work from home menjadi rutinitas. Tempat ibadahpun untuk ritual keagamaan masih dibatasi untuk mencegah penularan virus terjadi antar jemaat.

Meningkatnya kasus Covid-19 pasca lebaran karena mobilitas masyarakat meningkat , masyarakst abai dan mudik , bersilaturahmi tanpa  melaksanakan protokol kesehatan.

Banyak perusahaan swasta yang terpaksa memberhentikan karyawan akibat lesunya bisnis yang dijalankan.
Untuk menghadang dampak negatip yang berkepanjangan, maka salah satu solusi dari pemerintah, masyarakat boleh melakukan kegiatan rutinnya dengan tata cara baru mengikuti protokol kesehatan 3 M.

Berdasarkan data dari Gugus Tugas Penanganan Covid-19, pada 1 Juni 2021 jumlah kasus positip bertambah 4.549 orang. Total tercatat 1.826.253 positip, 1.673.221 orang dinyatakan sembuh, dan 50.747 orang meninggal.
Dari data diatas menunjukkan bahwa kita belum bisa memutus rantai penularan Covid-19 dimasyarakat.

Penyelamatan ekonomi memang penting, tetapi jika risiko terinfeksi Covid-19 juga meningkat, akhirnya justru semakin memperbesar kerugian ekonomi. Apalagi jika disertai semakin banyak korban jiwa. Sebab, pemberlakuan PPKM mikro saja tidak efektif, belum berhasil menurunkan penyebaran Covid–19.

Protokol normal baru mewajibkan perusahaan dan perkantoran menerapkan protokol kesehatan untuk menjaga jarak (physical distancing). Konsekuensinya, diperlukan ruangan yang lebih besar atau harus rela mengatur sif kerja, akibatnya biaya produksi meningkat yang akan memicu ekonomi berbiaya tinggi.

Penerapan PSBB dan dilanjutkan PPKM-mikro sekitar lima belas bulan telah berdampak luas pada seluruh aktivitas ekonomi masyarakat, akibatnya daya beli masyarakat menurun.
Pemerintah mengalami pemangkasan penerimaan negara, namun harus meningkatkan anggaran mitigasi Covid-19, mulai dari anggaran jaring pengaman sosial untuk rumah tangga miskin serta terdampak Covid-19. Sementara anggaran untuk kesehatan jauh lebih kecil dari yang dibutuhkan.

Protokol dari WHO menetapkan syarat terutama memastikan kemampuan pemerintah mengendalikan penularan Covid-19.
Pertama adalah perhitungan epidemiologi bahwa tingkat penularan harus dibawah 1. Pelonggaran dapat dilakukan jika penularan di bawah 1 telah berlangsung selama dua pekan.
Kedua, sistim kesehatan dengan indikator jumlah kasus baru yang butuh perawatan rumah sakit harus lebih kecil dari maksimal kapasitas tempat tidur. Perbandingan jumlah kasus Covid-19 tidak boleh melebihi 60 persen infrastruktur kesehatan.
Ketiga, surveillance, dengan jumlah tes yang cukup dibandingkan dengan jumlah penduduk suatu negara. Artinya, perlu adanya sistem kesehatan, termasuk kesiapan rumah sakit untuk mendiagnosis, mengisolasi, dan menangani tiap kasus serta mampu mentracing surveilance setiap kontak.

Rencana pembukaan kegiatan ekonomi harus dilakukan secara bertahap dengan menerapkan protokol Covid-19 secara maksimal.
Pemerintah harus menambah alokasi anggaran kesehatan jika tetap memaksakan masuk kondisi normal baru. Terutama masyarakat harus mempunyai kesadaran, kesiapan menjaga dengan disiplin, dan berhak melindungi diri sendiri. Masyarakat harus disiplin mengenakan masker, jaga jarak, menjaga kesehatan dan tidak berkerumun. Sementara masyarakat yang tidak mempunyai pendapatan dan jaminan sosial, harus rela menantang risiko terpapar Covid-19 demi mencari nafkah bagi keluarganya.
Apabila masyarakat tidak mempunyai kesadaran dan disiplin maka akan terjadi gelombang kedua pandemi Covid-19 yang akan berakibat meningkatnya kasus positip baru, angka kematian akan meningkat dan risiko tertular Covid-19 pada tenaga medis dokter, para medis perawat dan lainnya. Kita harus sadar bahwa Covid-19 sangat menular (contagious).

Upaya pemerintah memutus mata rantai penularan dengan melakukan vaksinasi Covid-19. Untuk bisa mencapai kekebalan kelompok, sekitar 50 sampai 80 persen populasi perlu di vaksinasi. Kita berharap dan percaya bahwa suatu saat akan sampai di tahap itu, jika semua orang bekerja sama, tidak menolak vaksinasi dan mematuhi protokol kesehatan setelah vaksinasi.

Mari berjuang bersama melawan pandemi Covid-19.
Bersama kita bisa melawan Covid-19

1Juni 2021.
Dr. Mulyadi Tedjapranata.

Perkembangan Virus Corona


Most Popular