Jumat, Oktober 22, 2021
BerandaHeadline4 Alasan yang Mendorong Pemudik Pulang Kampung

4 Alasan yang Mendorong Pemudik Pulang Kampung

Satusuaraexpress.co – Mudik Salah satu tradisi khas ketika perayaan hari raya keagamaan di Indonesia adalah mudik. Mudik dapat diartikan sebagai pulang kampung, dalam bahasa Jawa ada yang menyebut mudik sebagai singkatan dari mulih disik atau dari kata udik yang dalam bahasa Betawi adalah kampung.

Banyak tafsiran mengenai makna kata mudik. Ada yang menyebut bahwa kata mudik berasal dari bahasa Arab “al-aud” yang bermakna kembali. Mudik adalah kembali ke asal yakni udik. Sementara menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, mudik memiliki arti pulang ke kampung halaman.

Pulang ke kampung halaman yang jauh dari keramaian, aktivitas kota. Mudik dilakukan secara berulang-ulang. Baik ketika lebaran, liburan sekolah, natal, dan tahun baru. Sehingga mudik menjadi semacam budaya atau tradisi di nusantara yang dilakukan hampir setiap tahunnya.

Mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, jadi puncak mudik adalah ketika perayaan hari raya Idulfitri. Tradisi ini juga dapat diartikan sebagai suatu simbol akan munculnya kesadaran rohani akibat kehampaan spiritualitas akibat kesibukan aktivitas di kota.

Mudik yang tergolong dalam perayaan lebaran tidak disusun secara sistematis oleh negara maupun lembaga tertentu. Secara serempak dan akumulatif, masyarakat secara bersama-sama merayakan hari raya. Menjelang lebaran, jalan-jalan akan ramai kendaraan dengan tingkat volume yang naik tajam dibanding hari biasanya. Mudik adalah peristiwa budaya yang dilakukan berulang-ulang, dan bukan ciptaan atau rekayasa negara.

Umar Kayam mencatat bahwa mudik merupakan tradisi yang sudah ada sejak zaman kerajaan Hindu-Buddha tetapi sempat hilang. Islam datang menghilangkan beberapa tradisi yang dianggap syirik, termasuk ziarah. Tetapi kemudian Islam dan tradisi di Jawa dapat berakulturasi sehingga masyarakat bisa menerima dengan harmoni. Perlahan ziarah kubur dapat diterima dengan disisipi ajaran agama Sudah menjadi tradisi bagi umat Islam di Indonesia untuk mudik lebaran, atau saat hari raya Idul Fitri berkumpul dengan keluarga di kampung.

Tradisi mudik juga dimanfaatkan untuk mengaktualisasikan atas suatu keberhasilannya secara ekonomi dalam setahun terakhir. Mudik lebaran menjalin pertemuan antara anak dan orang tuanya dan anggota keluarga lainnya, dijakini bukan merupakan pertemuan biasa.

Para pemudik rela bermacet- macetan mengelyarkan biaya lebih untuk menjalani rutinitas mudik tahunan. Beratnya tantangan dan perjuangan yang dihadapi para pemudik, tidak pernah menyurutkan niat dan kemauan untuk mudik.

Paling tidak ada 4 dorongan yang menjadi tujuan para pemudik pulang kampung, yaitu :

Pertama; Dorongan dari sisi keagamaan yang telah menjadi budaya. Karena Islam mengajarkan bahwa mereka yang berpuasa akan diampuni dosa- dosanya. Tetapi yang diampuni hanya dosa dihadapan Allah SWT, sedangkan dosa kepada orang tua, saudara kandung dan tetangga sekampung tidak akan diampuni kecuali saling bermaaf- maafan dengan jabat tangan secara langsung.

Kedua; Dorongan Rindu kampung halaman. Setiap tahun kerinduan kepada kampung halaman selalu diobati dengan mudik. Oleh karena itu, tantangan berat yang dihadapi dan biaya yang lebih besar untuk bisa pulang kampung, tidak menjadi persoalan mereka tetap dijalani dengan penuh kegembiraan dan kebahagiaan.

Ketiga; Dorongan Nostalgia dikampung, Masa kecil di kampung halaman adalah masa masa yang paling indah dan menyenangkan, selalu ingin diperbaruhi dengan pulang kampung sambil membawa anak, menantu dan istri supaya ikut menghayati suasana kampung di masa dahulu.

Keempat ; Dorongan Unjuk diri kesuksesan, Budaya pamer berlaku kepada semua tingkatan sosial. Untuk pamer keberhasilan ini yang lebih nyata dengan membawa mobil pribadi pulang kampung. Bahkan beberapa pemudik rela untuk mencarter mobil hanya khusus untuk digunakan disaat mudik dan mondar mandir di kampung halaman selama lebaran Idul Fitri.

Pada tahun 1976 (Cet.V),Poerwadarminta menambahkan makna mudik ( dari bahasa Betawi ) sebagai pulang ke desa, jadi baru tahun 1976 mudik dikaitkan dengan pulang kampung dan Lebaran.

Salam sehat

Jakarta 8 Mei 2021

Dr. Mulyadi Tedjapranata

Perkembangan Virus Corona


Most Popular

Recent Comments