Sabtu, April 17, 2021
spot_imgspot_img
BerandaFeaturesWali Pendakwah di Jalur Politik Hingga Tokoh Pemisah Islam dan Politik

Wali Pendakwah di Jalur Politik Hingga Tokoh Pemisah Islam dan Politik

Islam dan politik mempunya histori tersendiri bagi bangsa Indonesia. Menurut kamus Besar Bahasa Indonesia kata Islam memiliki arti tentang kepercayaan yang dianut masyarakat atau agama yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW yang berpedoman pada kitab suci Al-Quran yang diturunkan ke dunia melalui wahyu Allah.

Sedangkan definisi politik merupakan ilmu tentang ketatanegaraan atau yang mengatur sebuah negara seperti sistem pemerintahan yang digunakan di suatu negara.

Berdasarkan definisi tersebut, Islam dan politik jelas memiliki perbedaan dalam segi arti dan makna.

Terkait hal demikian, bahasan ini akan menyoroti tentang sejumlah tokoh bangsa Indonesia yang terkenal dengan keislamannya dan pandai di dunia perpolitikan. Hingga satu waktu muncullah satu tokoh yang memisahkan antara kedua kata tersebut.

Tokoh yang dikonstruksikan sebagai “aktor jahat” di balik takluknya Aceh oleh pemerintah kolonial dalam perang yang berlangsung dari 1878 hingga 1908.

Sunan Ampel

Salah satu dari penyebar Islam Wali Songo di wilayah Jawa adalah Sunan Ampel. Jejak dakwahnya amat terkenal, mulai dari peninggalan Masjid Agung Demak hingga ajaran Moh Limo yang disesuaikan dengan kondisi masyarakat setempat.

Sunan Ampel bernama lengkap Raden Muhammad Ali Rahmatullah atau Raden Rahmat, lahir di Champa (Kamboja) sekitar 1401. Ia tergolong keturunan bangsawan, anak dari ulama besar Syekh Maulana Malik Ibrahim, sekaligus juga keponakan dari Raja Majapahit.

Karena gonjang-ganjing politik di Champa, sekitar abad 15, Raden Rahmat melakukan perjalanan ke daerah Jawa untuk menunaikan misinya menyebarkan agama Islam.

Dalam perjalanannya ke tanah Jawa, Raden Rahmat sempat singgah di Palembang dan berhasil mengislamkan adipati Palembang Arya Damar yang diam-diam berganti nama Ario Abdillah.

Ia juga singgah di Tuban dan berlabuh di Majapahit. Karena hubungan baiknya dengan Raja Majapahit kala itu, Prabu Brawijaya, Raden Rahmat diberi sebidang tanah di Ampeldenta, Surabaya.

Di sanalah basis pertama dakwah Raden Rahmat berdiri. Karena ia menyebarkan Islam di kawasan Ampeldenta, ia dikenal sebagai Sunan Ampel.

Di kawasan Surabaya itu, dakwahnya dimulai dengan mendirikan pesantren Ampeldenta, ia mendidik kader-kader penyebar Islam.

Di antara murid-murid Sunan Ampel yang terkenal adalah Sunan Giri, Raden Patah, Raden Kusen, Sunan Bonang, dan Sunan Drajat.

Dakwah Islam yang dilakukan Sunan Ampel bersamaan dengan lemahnya posisi kerajaan Majapahit.

Kendati Prabu Brawijaya menolak masuk Islam, namun ia menghormati posisi Sunan Ampel dan mengizinkan dakwahnya, asalkan tidak dilakukan dengan pemaksaan.

Berdasarkan bahasan tersebut, Sunan Ampel merupakan tokoh Islam yang pendai juga berpolitik. Hal itu terlihat, ketika Sunan Ampel berdakwah, yang menjadi fokus segmen dakwahnya adalah para tokoh-tokoh besar yang jelas memiliki pengikut yang tidak sedikit, seperti yang dibahas di atas.

Snouck Hurgronje

Snouck Hurgronje (1857-1936) adalah nama yang tak asing bagi banyak orang Indonesia yang belajar islamologi dan sejarah. Sebagai seorang orientalis, kepakarannya dalam studi Islam memang sangat diakui.

Berasal dari keluarga Protestan taat, ia memulai karier akademik dengan belajar teologi di Universitas Leiden pada 1874 dan lulus sebagai doktor di kampus yang sama pada 1880 dengan disertasinya yang terkenal: Het Mekkaansche Feest (Perayaan Mekkah).

Sebelum kedatangan Snouck ke Hindia Belanda pada 1889, kebijakan yang diambil pemerintah kolonial terhadap Islam terkesan inkonsisten. Di satu sisi, mereka mengembangkan sikap tidak mau ikut campur dalam urusan-urusan ritual umat Islam, seperti saat ibadah salat, zakat, ataupun jika umat Islam hendak membangun masjid. Namun di sisi lain, mereka justru bersikap represif terhadap orang-orang Islam yang hendak menunaikan ibadah haji.

Segala macam ketakutan dan kerancuan kebijakan terhadap Islam ini bukannya tanpa sebab. Pecahnya Perang Padri pada 1803-1838 serta Perang Jawa pada 1825-1830 sudah cukup menjadi pelajaran bagi pemerintah kolonial. Betapa dahsyatnya kekuatan politik Islam ini sebagai penyulut konflik jika sampai salah langkah lagi dalam mengantisipasinya.

Selain itu, belum adanya pedoman ilmu pengetahuan yang memadai mengenai masalah Islam juga merupakan masalah lain yang harus segera dipecahkan. Sehingga, mau tak mau, pemerintah kolonial harus mengambil sikap defensif dan berhati-hati terhadap umat Islam.

Sumber:

Tirto.id, Sejarah dan Prifil Sunan Ampel: Wali Pendakwah di Jalur Politik

Tirto.id, Siasat Snouck Hurgronje Menjinakkan Islam Politik

- Advertisment -

Most Popular