Virus D614G Mutasi Virus Corona Yang Mendominasi Penularan di Indonesia

5e9720b73d58a 1

Penulis : Dr. Mulyadi Tedjapranata, Editor : Wawan

Satusuaraexpress.co – Dunia kembali di goncang dengan timbulnya kembali kasus COVID-19, di mulai di China, menyusul di Korea Selatan,Jepang,Australia bahkan di Selandia Baru..

Mutasi baru SARS-C0V-2, penyebab COVID-19 semakin mengkhawatirkan. Selain ditemukannya varian yang memiliki kemampuan menggandakan diri 10 kali lebih cepat dan lebih menular, mutasi yang terjadi berkontribusi memicu ledakan  gelombang kedua wabah di sejumlah negara.

Dalam beberapa minggu ini jumlah kasus baru terkonfirmasi positif COVID-19 di Indonesia telah menembus angka 11.000- 14.000 an.Kepastian adanya virus corona tipe G ini disampaikian oleh Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro, bahwa berdasarkan hasil pengurutan  genom virus corona yang beredar di Indonesia ada yang sama dengan virus yang beredar di Eropa, satu masuk kategori G dilansir GridHITS antara. Berdasarkan hasil penelituan 11 laboratorium di Indonesia, sekitar 75 persen terpapar virus corona D614G, maka tak heran kasus di Indonesia terus melonjak.

Virus Corona diketahui telah beberapa kali bermutasi dari bentuk aslinya sejak pertama kali diidentifikasi pada Desember 2019 lalu. Saat ini ilmuwan menemukan virus D614G adalah mutasi COVID-19 yang mendominasi di seluruh dunia.

Virus COVID-19 yang terus bermutasi dianggap sebagai hal wajar oleh para ahli. Dari mutasi, para peneliti bisa mengetahui berbagai peluang yang bisa dilakukan untuk menghambat penyebaran virus Corona. Tapi, mutasi juga bisa berpotensi membuat virus lebih mudah menyebar, lebih efisien, dan berbahaya  dalam menginfeksi sel tubuh manusia.

Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman (LBME), Prof Amin Soebandrio mengatakan jenis mutasi Corona di Indonesia masih didominasi virus D614G.

“Dari 244 whole genome sequencing (WGS) yang disubmit itu, ada sekitar beberapa yang belum confirm ya, yang sudah confirm itu 221 kalau tidak salah, 70 persennya D614G,” katanya .”Kalau di dunia di global sudah lebih dari 80 persen D614G,” lanjutnya.

Tim peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menyatakan telah menganalisis virus corona SARS-CoV-2 dengan mutasi D614G. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mutasi D614G telah mendominasi kasus positif di Indonesia hingga saat ini.

Studi yang dipimpin oleh Gunadi, Ketua Kelompok Kerja Genetika (Pokja Genetik), FKKMK UGM ini telah diterbitkan di Research Square pada 24 September 2020. Studi ini masih dalam pracetak dan belum ditinjau oleh rekan sejawat.

Tujuan utama dari penelitian disebutkan untuk melaporkan urutan genom penuh SARS-CoV-2 yang dikumpulkan dari empat pasien Covid-19 di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Selain itu, penelitian itu untuk membandingkan distribusi clade urutan genom berdurasi penuh dari Indonesia sejak Maret-September 2020 dan melakukan analisis filologetik genom lengkap SARS-CoV-2 dari berbagai negara, termasuk Indonesia.

Tim peneliti menggunakan metode whole genome sequencing (WGS) dan menggunakan virus corona SARS-COV2 yang pertama kali dideteksi di Wuhan, yakni hCoV-19/Wuhan/Hu-1/2019. Untuk analisis filologetik, mereka mengumpulkan data 88 genom lengkap SARS-CoV-2 dari berbagai negara, termasuk Indonesia, yang tersedia di GISAID.

Hasilnya, peneliti menemukan tiga dari empat pasien memiliki mutasi D614G. Pasien yang memiliki mutasi D614G adalah perempuan berusia 83 tahun, perempuan 77 tahun, perempuan 55 tahun. Sedangkan yang tidak memiliki mutasi itu adalah perempuan 30 tahun.

Tiga pasien yang memiliki mutasi D614G didiagnosa menderita Covid-19 sedang dan pneumonia ringan. Sedangkan pasien tanpa mutasi hanya memiliki gejala ringan.

Lebih lanjut, tim peneliti juga membandingkan membandingkan 60 urutan genom dari Maret hingga September 2020. Berdasarkan data, 39 dari 60 genom virus (65 persen) mengandung mutasi D614G yang mewakili clade G (2), GR (7), dan GH (30).

“Dari Maret hingga April 2020, Clade L tampil dominan. Di sisi lain, terjadi peningkatan deteksi clade GH sejak April 2020 hingga saat ini,” ungkap hasil penelitian itu.

Sedangkan analisis filogenetik seluruh sekuensing genom menunjukkan bahwa tiga sampel virus (EPI_ISL_525492, EPI_ISL_516800 dan EPI_ISL_516829) termasuk dalam klade GH dan berada di antara virus SARS-CoV-2 dari Asia (Indonesia, Vietnam, China, Singapura, Korea Selatan, Arab Saudi , India, Jepang) dan Eropa (Inggris dan Italia).

“Di sisi lain, satu sampel virus (EPI_ISL_516806) termasuk dalam clade L dan terletak di cluster dengan virus g SARS-CoV-2 terutama dari Asia (Wuhan, Malaysia, Indonesia, India, Uni Emirat Arab, dan Jepang),” kutip penelitian itu.

Penelitian mendalam perkembangan mutasi virus corona di Indonesia

Dalam analisisnya, Gunadi dkk menyampaikan temuan mereka sesuai dengan situasi di Indonesia yang menunjukkan bahwa selama pandemi awal Maret-April, hanya dua klad, yakni O dan L yang terdeteksi, dengan clade L terakhir lebih dominan ditemukan dari kasus Covid-19.

Namun, virus ini lebih sering terdeteksi daripada klad lainnya sejak deteksi pertama clade GH pada April 2020. Artinya peneliti perlu memperbanyak sampel untuk membuktikan peningkatan jumlah pasien Covid-19.

“Apakah ini berkorelasi dengan peningkatan jumlah Covid-19 baru-baru ini di Indonesia harus diselidiki lebih lanjut,” kata Gunadi dkk.

Hal menarik dalam penelitian itu, kata pra peneliti adalah situasi serupa ditemukan di beberapa negara di Amerika Utara dan Afrika, yang juga mendeteksi lebih banyak strain virus SARS-CoV-2 milik clade GH daripada clades lainnya. Peningkatan deteksi SARS-CoV-2 menyampaikan mutasi D614G juga bersamaan dengan situasi global Covid-19 baru-baru ini.

Tim peneliti menyampaikan WGS sangat penting untuk menentukan varian dan klad virus, serta untuk memutuskan pendekatan klinis dan politik di tingkat regional dan lokal. Selain itu, perbedaan tingkat fatalitas dan penyebaran virus atau penularan di antara berbagai negara atau wilayah dipengaruhi oleh perbedaan dalam virus clade perlu dipelajari lebih lanjut.

“Studi lebih lanjut dengan ukuran sampel yang lebih besar diperlukan untuk menyelidiki apakah SARS-CoV-2 yang mendominasi yang membawa mutasi D614G disebabkan oleh efek pendiri atau mekanisme lain dan untuk mengeksplorasi peran mutasi D614G dalam patogenesis dan virulensi SARS-CoV-2,” ujar Gunadi dkk.

Berdasarkan penelitian yang dipublish di Cell dan WHO Collaborating Center di China menemukan mutasi Corona D164G bisa 10 kali lipat lebih menular daripada strain Wuhan-1 yang asli. D614G juga dilaporkan memiliki karakter protein yang cukup berbeda dari virus awalnya.

Dilansir Reuters, Paul Tambyah yang merupakan konsultan senior di National University of Singapore, pakar penyakit menular dan Presiden International Society of Infectious Diseases mengatakan bahwa bukti yang ada menunjukkan, mutasi corona bernama D614G tidak berbahaya sejalan dengan penurunan tingkat kematian di beberapa Negara.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengidentifikasi mutasi virus D614G telah beredar di Eropa dan Amerika pada Februari. Sementara di Indonesia, LBME melaporkan mutasi corona D614G sudah ada sejak April.

Mempengaruhi pengembangan vaksin?

Menteri Riset dan Teknologi RI Prof Bambang Brodjonegoro menyebut mutasi Corona virus D614G tidak mengganggu upaya pengembangan vaksin.

Mutasi virus D614G tidak menyebabkan perubahan struktur maupun fungsi dari RBD (receptor binding domain) yang merupakan bagian dari dari virus spike yang dijadikan target vaksin.

Menyikapi situasi pandemic yang masih belum terkendali kita dihimbau untuk berhati-hati dan tetap mematuhi protocol kesehatan dengan ketat. Waspada  dan ikuti protocol kesehatan dengan ketat. Memakai masker, menjaga jarak,mencuci tangan dengan sabun di air yang mengalir, Menghindari kerumunan, membatasai mobilitas dan interaksi dan meningkatkan Iman, rasa aman dan imun dan melakukan vaksinasi, untuk memutus rantai penularan COVID-19.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *