Melawan Infodemik Vaksin Covid 19

vaksin ok 1

Satusuaraexpress.co – Pandemi Covid-19 membawa dampak luar biasa, baik secara global maupun nasional. Tidak ada satupun aspek kehidupan yang tidak terkena dampak Covid-19 yang menyerang manusia tanpa pandang bulu. Entah kaya ataupun miskin, entah pejabat tinggi, menteri, presiden atau rakyat jelata, bahkan tenaga kesehatan dokter, profesor , semuanya terpapar wabah Covid-19 .

Ditengah guncangan ini timbul berbagai pendapat masyarakat yang mempertanyakan apakah pandemi Covid-19 ini merupakan suatu konspirasi global?  Salah satunya adalah timbulnya infodemik, yaitu merebaknya secara mendadak dan masif berbagai informasi dan isu tentang pandemi Covid-19 melalui medsos, surat kabar dll. Informasi yang tumpah ruah dari beragam sumber, tak jarang bertentangan antara satu dengan lainnya. Akibatnya masyarakat bingung, sulit memilah antara informasi yang kredibel dan hoax.

WHO menyatakan perang saat ini bukan hanya melawan Covid-19, melainkan juga tsunami informasi atau infodemik hoax.

Sejak kemunculannya virus corona SARS-CoV-2 pertama kali di dunia, para ahli sudah berlomba, adu cepat untuk menemukan obat, bahkan vaksin sebagai sarana ampuh untuk memutus mata rantai penularan ini. Pemanfaatan vaksin sebagai upaya agar tak tertular penyakit terentang lebih dari satu abad. Ratusan tahun sebelumnya vaksinasi sederhana telah dilakukan. Cara menorehkan virus cacar sapi ke lengan anak laki- laki berusia 13 tahun, James Phipps telah dilakukan Edward Jenner  di Inggris  tahun 1796.

Immunisasi cacar yang dilakukan sejak abad ke18 dan diperluas cakupannya oleh WHO membawa kemenangan manusia dalam membasmi cacar dari muka bumi pada 1979. Vaksin corona menjadi vaksin tercepat yang ditemukan dalam sejarah. Dimulai dari dibagikannya urutan kode genetik SARS-CoV-2 oleh China awal Januari 2020, kelompok peneliti di seluruh dunia menumbuhkan virus dan mempelajari bagaimana virus itu menyerang sel manusia. Vaksin akan meningkatkan kekebalan tubuh,sehibgga bisa melindungi tubuh dari penyakit.

Infodemia anti vaksin

Ketika vaksin Covid-19 sudah tersedia dan akan dilakukan vaksinasi, muncullah aksi-aksi penolakan vaksinasi di masyarakat. Motivasinya macam – macam; belum aman , belum selesai uji klinis fase 3, tidak halal, bahkan ada konspirasi dimasuki micro chip dalam vaksin itu, vaksinasi melanggar hak asasi manusia dan sebagainya.

Kelompok anti vaksin itu bukanlah gerakan baru karena sudah ada sejak abad ke 18 ketika diketemukan vaksin cacar, lalu ada reaksi anti vaksin cacar. Mereka dikenal dengan nama  Anti Vaksin atau Anti- Vaxxer . Bahkan mereka mendirikan organisasi Liga Anti Vaksin. Mereka memandang bahwa vaksin sebagai sesuatu yang berbahaya dan harus ditentang sehingga mereka nembuat propaganda dan gerakan menentang vaksinasi.

Di Indonesia anti vaksin juga disuarakan baik oleh masyarakat umum maupun beberapa kalangan terpelajar bahkan oleh anggota DPR RI. Masyarakat umum menentang vaksinasi karena khawatir akan keamanan vaksin, sementara kaum terpelajar menentang oleh karena dipandang sebagai pelanggaran hak asasi manusia (HAM).

Dalam situasi normal, vaksinasi itu adalah hak otonomi setiap individu. Pemberian vaksin ( vaksinasi) itu setara dengan penberian obat pada orang sakit. Itu adalah hak otonomi setiap orang untuk menentukan sendiri apakah mau menerima atau tidak

Untuk itulah dibutuhkan  informed consent ketika pasien setuju di vaksinasi atau  informed refusal kalau pasien menolak. Baik vaksinasi maupun pengobatan itu 100 persen hak otonomi pasien. Hak otonomi manusia menyatakan bahwa manusia berhak untuk mengatur dirinya sendiri. Pasien yang sakit tidak diwajibkan berobat ke dokter atau ke rumah sakit. Demikian juga vaksinasi juga tidak bisa diwajibkan karena kalau tidak di vaksin, yang bakal terkena dan mengalami penderitaan juga dirinya sendiri. Kalau orang dengan tahu, mau dan sadar mau menanggung risiko tidak di vaksin, itu adakah hak dia dan orang lain tidak berhak untuk mencampuri

Aspek etis vaksinasi di masa pandemi

Vaksinasi Covid-19 di masa pandemi sedikit berbeda pendekatan etisnya. Corona virus penyebab Covid-19 adalah virus yang mudah tersebar melalui droplet infeksi dengan kasus kematian yang tinggi. Hampir semua negara terpapar Covid-19. Penyebarannya sangat cepat dan menimbulkan dampak dibidang ekononi, sosial kemasyarakatan, politik, dan keagamaan. Dalam keadaan seperti itu ancaman Covid-19 tidak lagi berupa ancaman pribadi, tetapi sudah menjadi ancaman masa. Yang dibahayakan tidak lagi individu tetapi masyarakat umum. Kalau orang tidak di vaksin berarti akan menbahayakan dan ancaman kematian bagi masyarakat.

Oleh karena itu wajar bahwa vaksinasi tidak lagi menjadi hak otonomi setiap individu tetapi sudah menjadi kewajiban umum masyarakat. Mengapa? Sebab tidak ada seorangpun yang boleh dan berhak membahayakan hidup orang lain terpapar pada bahaya penyakit dan kematian.

Penghormatan terhadap otonomi ( respect for autonomy ) kalah dibandingkan dengan penghormatan terhadap hidup manusia ( respect for life) karena hidup manusia menjadi dasar dari adanya hak untuk dihormati otonominya.

Adanya otonomi mengandaikan adanya hidup, maka hidup menjadi lebih fundamental dan tidak boleh dikorbankan demi otonomi.

Mengenai alasan penolakan vaksinasi karena secara ilmiah belum terbukti aman dari segi etis tidak bisa dipertahankan. Pada 2005 UNESCO mengeluarkan dokumen Universal Declaration on Bioethics and Human Rights. Pada Pasal 3 2 dikatakan.” Kepentingan dan Kesejahteraan Individu manusia harus lebih diutamakan dibandingkan dengan kepentingan ilmu pengetahuan dan masyarakat”

Di satu pihak sangat dimengerti pentingnya riset Iptek demi perkembangan peradaban bangsa manusia, tetapi di lain pihak riset itu tidak boleh mengurbankan mausia, sekalipun riset tersebut sangat bermanfaat untuk manusia dan iptek itu sendiri. Hidup manusia harus lebih diutamakan dari pada riset.

Kakau saat ini yang tersedia hanyalah vaksin yang secara ilmiah ( melalui riset) belum terbukti 100 persen keamanannya, demi perlindungan kesejahteraan dan hidup manusia, vaksin seperti itu sah untuk dipergunakan.

Hidup dan kesejahteraan manusia harus lebih diutamakan dari pada riset itu sendiri karena riset adalah demi kesejahteraan serta hidup manusia.

Kecuali kalau ada indikasi medis yang kontra terhadap vaksinasi bagi seseorang,  vaksinasi Covid-19 tersebut mandatori dan bahkan kewajiban bagi warga negara.

Penulis : Dr. Mulyadi Tedjapranata.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *