Anies Tarik Rem Darurat! PSBB Ketat Mulai 11-25 Januari.

5f58d2c55e5a4

 

Satusuaraexpress. co-Guna menekan laju penularan COVID-19, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menarik rem darurat, yaitu melakukan kembali pembatasan sosial berskala besar (PSBB) ketat di Ibu Kota selama dua minggu ke depan. Hal itu dikatakan Anies Baswedan dalam keterangan Pers melalui situs Pemprov DKI Jakarta, Sabtu 09/1/2021.

“Saat ini kita sedang berada di titik kasus aktif tertinggi selama ini, yaitu di kisaran angka 17.383. Kasus aktif adalah jumlah orang yang saat ini berstatus positif COVID-19 dan belum dinyatakan sembuh.Baik yang dirawat di fasilitas kesehatan maupun di dalam isolasi mandiri,” ujar Anies.

Dijelaskan Anies, Keputusan pemberlakuan PSBB ketat ini tertuang dalam Keputusan Gubernur Nomor 19 Tahun 2021 dan Peraturan Gubernur Nomor 3 Tahun 2021. PSBB yang diterapkan dari 11-25 Januari 2021 ini juga sebagai tindak lanjut arahan pemerintah pusat.

Gubernur DKI Jakarta mengatakan keputusan untuk kembali memperketat PSBB dilatarbelakangi situasi COVID-19 di Jakarta dalam beberapa waktu terakhir yang cenderung mengkhawatirkan.

Anies mengungkapkan, pada saat pemberlakuan PSBB ketat pada September 2020, kasus aktif COVID-19 di DKI Jakarta dapat diturunkan secara signifikan. Ketika itu, kata Anies, terjadi lonjakan jumlah kasus setelah ada libur panjang tahun baru Islam pada pertengahan Agustus.

“Kita ingat pada pertengahan bulan Agustus, ada libur panjang tahun baru Islam. Dua minggu sesudah libur panjang, pertambahan kasus harian dan pertambahan kasus aktif melonjak sangat cepat. Maka pada saat itu, kita memutuskan menarik rem darurat di pertengahan bulan September,” ungkapnya.

Dijelaskan Anies, Beberapa waktu sesudah rem darurat ditarik, tampak kasus aktif menurun pesat, bahkan kembali ke titik awal sebelum kenaikan. Turun sampai 50 persen, hingga bisa kembali ke PSBB transisi. Artinya, pengetatan pembatasan sosial itu benar-benar efektif menurunkan kasus aktif,” ungkap Anies.

Libur panjang kerap menjadi pemicu terjadinya lonjakan jumlah kasus Corona. Terlebih, pada Desember 2020, terdapat libur panjang Natal dan tahun baru. Kondisi ini memicu terjadinya kenaikan kasus aktif dan berpotensi mendekati ambang batas kapasitas tempat tidur isolasi dan ICU di rumah sakit.

“Sebenarnya, mengapa pembatasan diperlukan? Karena, kecepatan pemerintah menambah kapasitas fasilitas kesehatan tidak boleh lebih lambat daripada kecepatan penambahan kasus. Dan setiap penambahan kapasitas tempat tidur membutuhkan penambahan tenaga kesehatan, penambahan peralatan, dan obat-obatan,” ujar Anies
MAN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *