Kelompok Konservasi Ungkap Satwa Liar dalam Ancaman Kemerosotan Malapetaka

IMG 20200913 152805
Satwa liar berada di bawah tekanan dari hilangnya habitat, termasuk deforestasi

satusuaraexpress.co – Satwa liar telah kehilangan lebih dari dua pertiga populasinya di dunia dalam kurun waktu kurang dari setengah abad.

Laporan tersebut disampaikan oleh kelompok konsevasi WWF. Mereka mengatakan, terjadi kemerosotan malapetaka tersebut tak memperlihatkan tanda-tanda akan melambat.

Diungkapkan Kepala eksekutif WWF, Tanya Steele. Dirinya menyampaikan, bahwa sebagian besar kejadian tersebut disebabkan oleh campur tangan manusia yang merusak alam pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.

“Tidak terkontrolnya penurunan populasi satwa liar akibat kerusakan yang terjadi seperti kejadian kebarakan hutan, penangkapan ikan secara berlebihan dan perusakan habitat” kata Tanya Steele dalam keterangannya yang dikutip pada, Minggu, (13/9/2020).

Tanya menyampaikan keprihatinannya terhadap kerusakan alam yang menjadi satu-satunya rumah untuk makhluk hidup.

“Kita sedang merusak alam kita satu-satunya rumah kita, mempertaruhkan kesehatan, keamanan dan kelangsungan hidup kita di Bumi ini. Sekarang alam mengirimkan pesan SOS karena sudah putus asa dan hampir kehabisan waktu” ujar Tanya.

IMG 20200913 135531
Grafik Data WWF

Berdasarkan pengamatan mereka, pihaknya mencatat data penurunan rata-rata sebasar 68% pada lebib dari 20.000 populasi mamalia, burung, amfibi, reptil dan ikan, sejak tahun 1970.

“Laporan ribuan spesies satwa liar dipantau oleh para ilmuwan konservasi di berbagai habitat di seluruh dunia.” jelas Tanya.

Direktur konservasi di Zoological Society of London (ZSL) melalui Dr Andrew Terry, menyampaikan bahwa penurunan tersebut merupakan bukti nyata dari kerusakan alam akibat ulah manusia.

Jika tidak ada yang berubah, berbagai populasi niscaya akan terus menurun, menyebabkan kepunahan satwa liar dan mengancam keutuhan ekosistem tempat kita bergantung,” imbuhnya.

IMG 20200913 170602
Orangutan menjadi salah satu satwa yang terdampak dari kebakaran hutan di wilayah Kalimantan dan Sumatera

Berdasarkan laporan menyebutkan pandemi Covid-19 merupakan pengingat yang kuat tentang bagaimana alam dan manusia saling terkait.

Faktor-faktor yang diyakini menjadi penyebab munculnya pandemi, termasuk hilangnya habitat dan penggunaan serta perdagangan satwa liar, menjadi faktor pendorong di balik penurunan jumlah satwa liar.

Untuk itu, bukti ditunjukan bahwa jika kita dapat menghentikan dan bahkan memutarbalikan hilangnya habitat satwa liar dan deforestasi dapat mengambil tindakan dengan konservasi serta mengubaj cara memproduksi dan mengonsumsi makanan.

IMG 20200913 164628
WWF_id/Badak Jawa merupakan satwa yang terancam punah di Indonesia, bahkan di dunia

Presenter TV dan naturalis asal Inggris Sir David Attenborough mengatakan Antroposen, yakni zaman geologis ketika aktivitas manusia semakin mengemuka, bisa menjadi saatnya bagi kita untuk mencapai keseimbangan dengan alam dan menjadi penjaga planet.

“Melakukan hal itu akan membutuhkan perubahan sistemik dalam cara kita memproduksi makanan, menciptakan energi, mengelola lautan, dan menggunakan bahan,” ujarnya.

Namun, di samping itu, akan dibutuhkan perubahan perspektif. Merubah dari cara memandang alam sebagai sesuatu yang opsional atau ‘menyenangkan untuk dimiliki’, menjadi sekutu terbesar yang kita miliki dalam memulihkan keseimbangan dunia kita.

Sir David merupakan seorang yang membawakan acara film dokumenter baru tentang kepunahan yang akan ditayangkan di BBC One di Inggris pada hari Minggu, 13 September.

IMG 20200913 164532
Pesut Mahakam lumba-lumba air tawar asal Kalimantan Timur yang diperkirakan tersisa tidak lebih dari 100 ekor

Laporan WWF merupakan bagian dari sejumlah penilaian mengenai kondisi alam yang dipublikasikan. Sehingga selama inj, data kepunahan dikomulasikan oleh Internasional Union For Consevation of Nature (IUCN), yang telah mendata lebih dari 100.000 spesies tumbuhan dan hewan, dengan lebih dari 32.000 spesies terancam punah.

Pada 2019, panel ilmuwan antar pemerintah menyimpulkan bahwa satu juta spesies 500.000 hewan dan tumbuhan, dan 500.000 serangga) terancam punah, sebagain bahkan dalam waktu beberapa dekade.

Untuk itu, PBB akan kembali mengumumkan penilaian terbaru tentang keadaan alam di seluruh dunia pada Selasa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *